Kamis, 21 Mar 2019
radarsolo
icon featured
Features

Rusdi Mustapa, Penggagas Belajar Sejarah melalui Metode Komik 

14 Februari 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

TEROBOSAN BARU: Siswa MAN 1 Surakarta menunjukkan komik sejarah.

TEROBOSAN BARU: Siswa MAN 1 Surakarta menunjukkan komik sejarah. (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Bagi sebagian pelajar, belajar sejarah mungkin sangat membosankan. Padahal untuk menjadi negara besar, mengenang sejarah dan jasa para pahlawan adalah suatu hal yang penting. Rusdi Mustapa, guru sejarah MAN 1 Surakarta, memiliki cara unik agar siswanya tertarik belajar sejarah. Seperti apa inovasinya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Solo

KOMIK dipilih Rusdi Mustapa sebagai media menyenangkan untuk belajar sejarah. Tak hanya pelajar, komik dinilai sebagai hiburan segala usia. Untuk itu, guru sejarah MAN 1 Surakarta ini membuat metode pembelajaran yang unik dan antimainstream. Ia meminta siswanya membuat komik sejarah untuk memudahkan dalam memahami materi sejarah yang diampunya. 

“Selama ini kan anak-anak kalau belajar sejarah hanya membaca. Nah, saya berpikir bagaimana jika belajar sejarah itu ada visualisasinya. Jadi ketika mereka membaca tidak hanya membayangkan, tapi juga melihat. Dari situ lah saya punya ide untuk membuat komik yang berisi materi sejarah,” beber Rusdi kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin di sekolah setempat.

Rusdi menentukan tiga tema komik sejarah yang harus dibuat para siswa. Yakni masa penjajahan Jepang, peristiwa Rengasdengklok, dan Proklamasi. Ketiganya berinti cerita tentang perjuangan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Komik-komik tersebut dibuat dengan teknik digital.

“Tujuan awal pembuatan komik ini adalah agar anak-anak membaca materi sejarah. Karena sebelum pembuatan komik, mereka harus membaca buku terlebih dahulu. Tentu saja karena sejarah tidak bisa diawur,” ungkapnya.

Pembuatan komik juga memberikan pengalaman baru bagi para siswa. Bahwa mapel sejarah yang selama ini dianggap membosankan juga bisa divisualisasikan ke dalam bentuk komik. Sehingga siswa lebih mudah memahami materi melalui gambar yang disajikan, tidak hanya berupa tulisan.

“Sebenarnya pembuatan komik sejarah ini bukan hal yang baru bagi kami. Tahun lalu, kami juga sudah memulai membuat komik sejarah. Tapi komik dibuat oleh siswa dalam bentuk soft file. Belum dicetak dalam bentuk buku,” sambung Rusdi.

Rusdi mengampu siswa kelas XI. Mereka kemudian dibagi dalam kelompok yang masing-masing terdiri dari 7-8 siswa. Setiap kelas membentuk empat kelompok dengan satu ketua kelompok dalam pembuatan komik.

“Masing-masing kelas membuat komik dengan tema yang berbeda. Sebelum membuat komik, siswa sekelas berdiskusi terlebih dahulu untuk membagi bab yang akan dibahas. Agar komik-komik yang dibuat saling berkaitan, atau istilahnya terminologi,” jelas salah seorang ketua kelompok, Fauzzan Zakky.

Fauzzan menyebut ia dan timnya membutuhkan waktu selama dua pekan untuk menyelesaikan satu komik. Waktu tersebut merupakan tenggat maksimal yang diberikan Rusdi. Menurut Fauzzan, kendala datang bukan dari segi waktu. Namun lebih pada koordinasi antartim.

“Sebenarnya waktu dua pekan yang diberikan oleh Pak Rusdi tidak masalah bagi kami,” ujarnya.

Kesulitan yang Mereka hadapi justru pada saat mengoordinasi atau menyelaraskan bahwa satu tim itu harus sejalan pikirannya. Setelah itu teratasi, tahap selanjutnya tidak ada kendala. “Karena masing-masing dari anggota tim sudah paham cerita dan alurnya bagaimana, slidenya mau bagaimana, scene-nya bikin apa saja. Nah itu, kami mengumpulkan aspirasi dari masing-masing murid kemudian baru kami buat,” ungkapnya.

Siswa MAN 1 Surakarta lainnya, Fairuzzaky Ramadhan menilai metode pembelajaran menggunakan komik lebih efektif dalam mengajarkan sejarah kepada siswa. Menurutnya, siswa jauh lebih senang membaca buku yang banyak gambarnya karena dinilai tidak membosankan.

“Kami senang membuat komik seperti ini. Yang awalnya tidak suka sejarah bisa jadi suka. Saya sendiri sebagai salah satu ketua tim buku ini merasa bangga. Tugasnya hanya dua pekan, tapi menurut saya itu sudah cukup. Satu-satunya kesulitan adalah mengumpulkan teman-teman dan menyamakan gagasan terkait buku yang akan dibuat. Selebihnya saya rasa tidak ada masalah,” ujarya. (ditambahkan budi-asprila/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia