Minggu, 21 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features
Jejak Pasukan Elit Legiun Mangkunegaran

Stabelan Hunian Prajurit Meriam, Kestalan Prajurit Berkuda

18 Maret 2019, 19: 36: 52 WIB | editor : Perdana

Stabelan Hunian Prajurit Meriam, Kestalan Prajurit Berkuda

DALAM lingkungan sosial Mangkunegaran, menjadi tentara legiun merupakan dambaan bagi rakyat karena dianggap sebagai profesi sangat mulia dan terhormat. Betapa tidak, selain mampu mendongkrak status sosial seseorang dan sebagai upaya mendekatkan diri dengan Gusti Mangkunegara.

Kemudian dari segi ekonomi juga dinilai cukup bagus sebab selama menjalankan tugas mereka memperoleh gaji dan sejumlah ransum pangan setiap bulan berupa beras dan garam. 

“Belum lagi masalah kesejahteraan anak-istri juga ikut diperhatikan dengan menyisihkan gaji, dan perawatan kesehatan mereka terjamin pula,” papar Sejarawan Solo Heri  Priyatmoko.

Ditambahkan Heri, meski begitu tidak sembarang lelaki bisa bebas mendaftar. Terdapat beberapa syarat yang wajib ditaati. Pertama, hanya mereka yang lahir di wilayah kekuasaan Mangkunegaran dan mempunyai garis keturunan priyayi kerajaan tersebut. Dengan kata lain, peraturan ini jelas untuk membatasi dan melarang pria yang tinggal di kawasan Kasunanan Surakarta ikut berpartisipasi

“Karena sudah beda majikan, dan kala itu memang terjadi pemilahan sosial secara geopolitik yang menonjol sehingga peraturan ini mempertegas konflik kewilayahan yang tumbuh subur di Kota Solo. Orang yang masih terhitung trah abdi dalem Mangkunegaran lebih diprioritaskan demi mempersempit proses seleksi, dan pola ini secara tidak langsung mengarah pada unsur nepotisme sehingga muncul istilah geretan ,” katanya.

Kedua, tubuh harus kuat berusia 15-30 tahun, tinggi badan kurang lebih 152 cm, dan keadaan sehat. Juga tidak sakit gila, ayan, asma dan bubulen atau mata ikan. Dan yang terakhir secara mental harus berasal dari keluarga yang baik, berkelakuan baik dan tidak punya kebiasaan dan kegemaran yang dapat merusak tubuh, seperti opium dan minuman keras.

Heri mengurai, yang tidak kalah penting adalah seragam prajurit legiun. Dia menuturkan, seragam prajurit sempat berganti-hantu, namun tetap mengenakan busana Eropa. Semasa pemerintahan Daendels, seragam legiun berupa topi syako, jas hitam pendek dan celana putih. Selanjutnya saat Inggris berkuasa, prajurit legiun mengenakan seragam militer gaya Inggris yakni, seperangkat jas laken merah, rok, celana putih dan topi kolbak.

“Secara psikologis, cukup menjadi suatu kebanggaan bagi kalangan prajurit pribumi dapat memasang seragam Eropa pada tubuhnya. Bukan hanya para serdadu yang senang, Gusti Mangkunegara juga merasakan hal serupa. Bahwa para penguasa Mangkunegaran sebagai pemimpin legiun dihinggapi rasa bahagia bisa pamer identitas kemiliteran mereka dengan memakai pakaian kebesaran militer Belanda,” paparnya.

Meski begitu, ada yang unik dalam penerapan seragam. Terdapat regulasi yang mengatur bahwa bila penguasa Mangkunegaran tidak memakai pakaian seragam dan pangkat serta tidak memakai payung. Saat berjalan di depan prajurit jaga, maka prajurit tidak perlu memberi hormat.

“Meskipun beliau merupakan junjungan mereka. Dalam konteks inilah, seragam legiun adalah segala-galanya, sanggup meruntuhkan unsur feodalisme yang membelenggu masyarakat Jawa. Dengan demikian, tidak menyembah Gusti Mangkunegara sungguh merupakan hak istimewa bagi seorang abdi dalem,”ujarnya.

Terkait tempat tinggal, para serdadu legiun tidak menempati barak dalam benteng atau asrama layaknya KNIL. Jumlah mereka yang ratusan hingga ribuan sangat tidak mungkin setiap hari melepas lelah dan melewati malam di gedung kavaleri di Pamedan. Sebab, melihat kapasitas bangunan tidak akan muat.

Lokasi hunian pasukan legiun di dalam kampung telah diatur sesuai kemampuan yang mereka punyai. Kampung Stabelan menjadi tempat tinggal prajurit yang ditugasi memegang meriam. Kestalan bagi prajurit berkuda karena di dalamnya juga terdapat kandang kuda. Pasukan Jagabaya di Jagabayan, yang kini letaknya di sebelah selatan Pasar Legi.

Era Mangkunegara IV terjadi pengembangan dalam struktur legiun, yaitu munculnya pasukan Bromantaka yang ditugasi memadamkan kebakaran. Mereka disediakan tempat di Bromantakan. Prajurit pemburu yang bernama Jagers menempati Kampung Jageran. Sedangkan pasukan golongan menengah dalam Legiun Mangkunegaran yang disebut prajurit Tamtama bermukim di Madyataman.

Lalu bagaimana apabila tidak ada peperangan, Heri menuturkan, biasanya pare legiun bertugas untuk menjaga keraton, kandang kuda dan gudang-gudang militer. 

“Setiap malam Senin dan Kamis, melakukan upacara baris-berbaris dengan iringan musik. Yang kena jatah tugas piket, menyediakan dirinya mulai pukul 05.00 pagi hingga pukul 20.00 malam. Sesudah itu, mereka balik ke rumah dan berinteraksi sosial,” katanya.

“Kala waktu senggang mereka menyelenggarakan hiburan yang mengandung nilai-nilai keprajuritan di tengah kampung. Misalnya, di siang hari mereka beradu jago, adu jangkrik, berlatih memanah dan berolahraga. Saat malam menjemput, para serdadu legiun bermain kartu, menari, mendengarkan klenengan, dan menyaksikan pertunjukan wayang orang yang bertemakan keprajuritan,” urai Heri.

Dalam urusan uang, pemerintahan kala itu menerbitkan prosedur utang-piutang untuk tentara legiun. Di mana antara anggota dilarang utang demi menghindari selisih paham. “Mereka dibolehkan berhutang hanya dengan orang lain,” tutur Heri.

Apabila ada keperluan mendadak dan membutuhkan ongkos segera seperti istri melahirkan dan orang tua sakit, mereka diberi hak untuk ngemping kepada bendahara praja Mangkunegaran. Namun, besarannya tidak boleh melebihi setengah dari jumlah gaji yang ia kantongi setiap bulan. (atn/bun

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia