Minggu, 21 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Sisi Lain Hapidin, Ujung Tombak Tim Laskar Sambernyawa Hobi Motocross 

20 Maret 2019, 09: 50: 59 WIB | editor : Perdana

ASAH NYALI: Di jeda kompetisi sepak bola, Hapidin menekuni hobi motocross. 

ASAH NYALI: Di jeda kompetisi sepak bola, Hapidin menekuni hobi motocross.  (DOK PRIBADI)

Jatuh bangun dalam meniti sebuah karir sudah biasa. Hapidin merasakan itu sebelum kini berlabuh di Persis Solo. Seperti apa kisahnya?

NIKKO AUGLANDY, Solo

KEHADIRAN Hapidin menjadi darah segar bagi tim Persis Solo. Beragam komentar dukungan kepada pemain asal Bandung pun mengalir dari para suporter. Kehadiran mantan pemain Persiraja Banda Aceh dan Persibat Batang musim lalu tersebut diharapkan bisa menjadi solusi untuk mempertajam produktivitas gol Persis di Liga 2, yang musim lalu belum begitu menggembirakan.

”Cukup senang pastinya bisa gabung ke sini. Apalagi musim lalu saya sempat hampir ke sini tapi tidak jadi. Semoga musim ini jadi musim yang tepat buat saya berkarir di Persis,” ujar Hapidin.

Ya, musim lalu Hapidin memang sempat hampir berseragam merah-merah khas Laskar Sambernyawa. Labelnya sebagai top skor sementara Persiraja pada putaran pertama Liga 2 membuat pelatih persis, Jafri Sastra kepincut. Dia berharap Hapidin bisa menambah amunisi tim kebanggaan wong Solo ini.

Dalam perjalanan karirnya ini, ternyata Hapidin pernah membuat geger dunia persepakbolaan Indonesia. Yakni saat dia mengunggah sebuah foto di instagram pribadinya pada 2017 silam. Kala itu dia meng-upload foto dia ingin menjual sepatu emasnya yang didapat setelah menjadi top skor Divisi I 2014. Di bawah foto itu dia beri penjelasan sedang butuh biaya untuk terapi kakinya yang kala itu mengalami cedera parah.

”Saat itu sudah buntu. Karena mengalami cedera parah, sementara butuh biaya untuk terapi. Ditambah saat itu tak bergabung dengan klub, jadinya tak punya pemasukan. Makanya kepikir untuk jual satu-satunya sepatu emas itu,” ujarnya.

Bersyukur sepatu emas tersebut tidak jadi dibeli orang. Karena setelah dia mengunggah foto menawarkan sepatu emasnya itu, banyak yang simpati dan memberi bantuan untuk pengobatan kakinya. “Saya lega ternyata masih banyak yang peduli akan nasib saya,” tuturnya.

Cedera ini dialami Hapidin pada 2015, saat dirinya tengah mengikuti kompetisi antarkampung (tarkam) di Kebon Rowopucang, Pekalongan. Benturan hebat saat pertandingan, membuat dia mengalami cedera patah tulang kering kaki kiri.

”Saat itu saya seperti depresi berat. Hati saya seperti hancur ketika mengingat kejadian itu. Setiap malam saya selalu berdoa semoga cepat diberi kesembuhan atas cedera parah yang tengah saya rasakan,” tuturnya.

Hampir 2 tahun dirinya tak ikut hingar-bingar persaingan di kompetisi Liga Indonesia. Namun karena tekad besarnya untuk sembuh, akhirnya dia memberanikan diri untuk kembali berlatih, dan memantapkan lagi mental bermainnya. Dirinya juga rutin mengasah skill individunya.

”Pada 2017 akhirnya saya bisa come back di putaran kedua. Dengan tangan terbuka Persibat Batang kembali memberi saya kepercayaan untuk bisa gabung. Awalnya masih trauma, tapi karena motivasi dari rekan-rekan semuanya, akhirnya saya bisa kembali menikmati permainan,” terangnya.

Setelah itu dia malang melintang ke beberapa klub, di antaranya PSIS Semarang dan Persiraja Banda Aceh sebelum akhirnya berlabuh ke Persis Solo pada musim ini. Kini dia sudah siap bersaing dengan para penyerang dari klub-klub papan atas untuk membuktikan kualitas dirinya.”Saya sudah fit 100 persen, dan siap menunjukkan lagi kemampuan saya di lapangan,” tuturnya.

Bahkan pria kelahiran 11 Juli 1991 ini juga menekuni hobi ekstrem menunggangi motocross. ”Saya main trabasan kalau sedang jeda kompetisi seperti saat ini. Hitung-hitung menjaga mental saya agar tetap berani menghalau setiap rintangan,” ujar Hapidin yang  tiga tahun terakhir menekuni hobi ini. (*/bun)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia