Minggu, 21 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Harvashavina Adhwa Faradisa,Anak asal Boyolali Terjangkit Tumor Langka

22 Maret 2019, 11: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TERGOLEK: Faradisa kini tidak bisa mengenyam pendidikan setelah menderita tumor.

TERGOLEK: Faradisa kini tidak bisa mengenyam pendidikan setelah menderita tumor. (TRIWIDODO/RADAR SOLO)

Harvashavina Adhwa Faradisa harus berjuang untuk bertahan hidup. Bocah berusia 5 tahun itu menderita penyakit kanker yang sangat langka. Seperti apa kondisinya kini?

TRI WIDODO, Boyolali

TUBUH Faradisa tergolek lemah di atas tempat tidur. Sesekali terdengar suara lemah. Ya, sejak sembilan bulan lalu, puteri pasangan suami isteri (pasutri) Hartanto, 33, dan Harni, 32, itu ini sudah didiagnosa dokter mengidap Wilm's Tumor stadium tiga atau kanker nephroblastoma. Yakni Penyakit kanker ginjal yang hanya menyerang anak-anak. 

Akibatnya ginjal bocah asal Dusun Tegalsari, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo itu harus diangkat. Tak cukup di situ saja, setelah ginjalnya diangkat, pembuluh hati bocah itu juga mengalami penyempitan. 

Meski menderita penyakit langka, tapi bocah mungil ini senantiasa tersenyum. Dia pun terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah di TK setempat. Hari- harinya hanya tergolek di tempat tidur setelah ginjalnya diangkat dan mengalami penyempitan pembuluh di hati.

Sang ibu, mengaku tidak menyangka bahwa anaknya mengidap penyakit langka. Apalagi harus kehilangan satu ginjal. Karena memang untuk mengobati anaknya ginjalnya harus diangkat. “Saya kasihan sekali. Anak saya harus mengalami penderitaan yang cukup berat,” tuturnya.

Ibu yang sehari-hari mengurus rumah tangga itu menceritakan awal mula penyakit itu menimpa anaknya tersebut. Sembilan bulan lalu, puterinya terjatuh dari teras rumah tetangganya. Sontak, Fara, sapaan anaknya tersebut mengalami keanehan. Perutnya kembung. Tapi kembungnya tak seperti kembung pada umumnya yang lunak. Perut puterinya justru keras dan susah buang air besar.

Dia pun mengira, Fara hanya mengalami masuk angin biasa. Fara pun hanya diurut saja. “Tapi sudah dua pekan tidak berubah, akhirnya kami bawa ke RSUD Boyolali,” tutur Harni

Melalui pemeriksaan CT scan, USG dan rontgen, tim dokter berupaya menguak penyakit yang diderita Fara. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tumor di ginjal atau Wilm’s Tumor. “Setelah positif Wilm's Tumor kami dirujuk ke RS Moewardi solo. Di sana dikonfirmasi bahwa memang ginjalnya harus diangkat,” katanya

Sebelum ginjalnya diangkat, menurut Harni, sempat dilakukan embolisasi atau prosedur non bedah. Sayang tidak berhasil karena pembuluh darah yang menuju tumornya sudah terhimpit. Akhirnya, kemoterapi jadi satu-satunya pilihan untuk mengurangi risiko pendarahan pada saat pengangkatan ginjal.

“Namun setelah kemoterapi, rambut kepala jadi gundul dan mengalami pembengkaan hati,” ujarnya.

Selain itu, penyakit ini menyebabkan berat badan Fara menurun drastis hingga masuk ke dalam kategori gizi buruk. Fara pun terpaksa harus dioperasi lagi. Tapi sayang, untuk operasi membutuhkan biaya sangat besar. Tanpa menyebut besaran biaya operasi, dia pesimis penghasilan suaminya sebagai karyawan swasta bisa menutupnya.

“Kalau harus operasi dan membayar semua, kami tentu tidak memiliki dana yang cukup. Penghasilan ayahnya hanya bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari- hari,” katanya.

Camat Cepogo Insan Adi Asmono mengakui, saat ini Fara membutuhkan uluran tangan dan sumbangsih masyarakat untuk biaya pengobatan dia. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk melanjutkan proses kemoterapi di RSUD Dr Moewardi Solo, serta terapi di RSUP Karyadi Semarang.

Selain itu, juga butuh biaya untuk membeli susu guna menaikkan berat badan Fara. Sekaligus membelikan susu untuk adik Fara yang  baru berumur 5 bulan. “Adik Fara terpaksa minum susu formula karena ibunya harus menemani Fara selama pengobatan,” ujarnya. (*/bun) 

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia