Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Inflasi Maret Diprediksi Tinggi

22 Maret 2019, 17: 35: 47 WIB | editor : Perdana

CARI SOLUSI: TPID Surakarta berbincang dengan pedagang bawang putih saat sidak di Pasar Gede, Rabu (20/3).

CARI SOLUSI: TPID Surakarta berbincang dengan pedagang bawang putih saat sidak di Pasar Gede, Rabu (20/3). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Beberapa komoditas pasar mengalami kenaikan harga cukup signifikan. Beberapa hari terakhir, harga bawang putih dan merah membumbung tinggi. Kenaikan harga ini diprediksi memicu inflasi bulan ini.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Surakarta, R. Bagus Rahmat Susanto memprediksi, inflasi Maret bakal lebih tinggi dibandingkan periode yang sama, tahun lalu. Seiring kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok. Sebagai catatan pada Mei 2018, inflasi di Kota Solo menyentuh 0.18 persen. Sedangkan pada Februari kemarin, mengalami deflasi 0,11 persen.

”Secara harga ada selisih hampir Rp 15 ribu untuk bawang putih. Namanya sudah ganti harga. Kalau kenaikan harga, pasti tidak sampai sesignifikan tersebut. Begitu juga komoditas bawang merah,” kata Bagus kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (21/3).

Hasil inspekdi mendadak (Sidak) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Surakarta di Pasar Gede, Pasar Legi, dan Pasar Nusukan, Rabu (20/3), bawang putih dibanderol Rp 45 ribu per kg. Padahal sepekan lalu masih Rp 30 ribu per kg.

Saat ini TPID Surakarta bersama stakeholder lainnya masih melakukan analisa terkait kenaikan harga bawang putih dan bawang merah. Ada indikasi kenaikan harga bawang putih naik karena komoditas tersebut masih impor dari Tiongkok. Sehingga jalur distribusinya cukup panjang. Sedangkan bawang merah dalam penyelidikan karena distribusi di beberapa kota tidak mengalami kendala.

”Kami terus berupaya meminimalkan impor bawang putih. Melalui program penanaman bawang putih di Tegal. Juga Denplot bawang putih di Karanganyar. Ini masih tahap pengembangan bawang putih doubel kromosom. Meski belum dapat memenuhi kebutuhan untuk daerah, TPID dan stakeholder terus berupaya. Sehingga volume impor bawang putih sebesar 95 persen ini dapat ditekan,” tandas Bagus. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia