Sabtu, 20 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Varietas Padi Rojolele Tinggal Uji Aroma

22 Maret 2019, 19: 16: 16 WIB | editor : Perdana

SINERGI: Dialog program ATP di Desa Tlinsing, Cawas.

SINERGI: Dialog program ATP di Desa Tlinsing, Cawas. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Impian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten memiliki varietas padi rojolele unggulan segera terwujud. Uji pemuliaan mutasi radiasi pada bibit rojolele di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menunjukkan progres menggembirakan. Saat ini tinggal memasuki tahapan uji aroma dan sidang varietas.

”Terkait pemulian padi rojolele ini, kami sudah melakukan kerja sama dengan BATAN sejak 2013. Tetapi masih menyisakan untuk uji aroma dan sidang, sehingga dapat segera diselesaikan. Nanti akan kami perkenalkan ke masyarakat secara luas sebagai ikon Kabupaten Klaten,” kata Bupati Klaten, Sri Mulyani kepada Jawa Pos Radar Solo usai program Agro Techno Park (ATP) di Desa Tlinsing, Cawas, Kamis (21/3).

Setelah lulus uji, varietas rojolele tidak hanya ditanam di Kecamatan Delanggu. Meskipun selama ini brand beras rojolele dari Delanggu. Tetapi juga di beberapa areal persawahan di Kota Bersinar –julukan Kabupaten Klaten–.

Oleh BATAN, tinggi varietas rojolele bisa diturunkan dari 170 cm jadi 110 cm. Umur tanam sudah diperpendek dari 160 hari jadi 110 hari. Terkait namanya, BATAN menyodorkan rojolele inuk. Singkatan dari inovasi nuklir Klaten.

”Nanti kalau benar-benar teralisasi, saya tertarik membangun pasar khusus beras. Tak hanya menjual rojolele, tetapi seluruh jenis beras hasil produksi petani Klaten. Ditunggu rojolelenya dulu,” bebernya.

Pembangunan pasar khusus beras akan memanfaatkan lahan sub terminal Delanggu. Tetapi tanpa menghilangkan fungsinya untuk menaikan para penumpang. Hanya saja kios yang tidak dimanfaatkan akan diubah penggunaannya sebagai tempat berjualan para pedagang beras.

Pendirian pasar khusus beras nantinya akan membidik para wisatawan yang melintasi Delanggu. Mereka dapat membeli beras rojolele yang menjadi ikon Klaten selama ini. Dikenal dengan cita rasanya yang pulen dan beroma wangi. Harapannya, para pengunjung bisa mendapatkan beras premium hasil produksi para petani Klaten.

”Salah satunya juga semakin menegaskan jika Klaten adalah lumbung pangan Jawa Tengah. Apalagi bisa mengakomodasi para petani ketika menjual produk berasnya di saat panen raya sehingga tidak perlu khawatir sampai tidak ada pembeli,” tandasnya.

Deputi Kepala Batan Bidang Teknologi Energi Nuklir (TEN), Suryantoro menambahkan, BATAN terus berupaya melahirkan varietas rojolele melalui pemuliaan. ”Di Klaten varietas padi hasil riset BATAN ditanam di 28 desa dan 9 kecamatan. Seluas 619 hektare. Khusus Desa Tlinsing 118 hektare,” urainya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia