Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Doakan Bangsa, Rawat Persatuan 

25 Maret 2019, 08: 45: 59 WIB | editor : Perdana

PESAN DAMAI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo hadiri Slametan Puser Bumi di Magelang.

PESAN DAMAI: Gubernur Jateng Ganjar Pranowo hadiri Slametan Puser Bumi di Magelang. (BAYU WICAKSONO/RADAR SOLO)

MAGELANG - Ribuan warga berduyun-duyun menaiki Bukit Tidar, Kabupaten Magelang Minggu kemarin (24/3). Mengenakan pakaian adat dan membawa aneka tumpeng, masyarakat dari Kota Magelang, Kabupaten Magelang dan Purworejo serta daerah lain itu rela menaiki ratusan anak tangga menuju puncak bukit yang dipercaya sebagai paku bumi pulau Jawa itu. 

Sejak pagi hari, ribuan  masyarakat sudah memenuhi lokasi itu. Sambil menunggu acara yang digelar sore, masyarakat menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Syech Subakir. Kedatangan warga ke puncak bukit Tidar dilakukan untuk menggelar Umbul Dungo, yakni berdoa bersama di puncak bukit, memohon kepada Tuhan untuk persatuan bangsa.

Dalam acara bertajuk Slametan Puser Bumi, Merawat NKRI tersebut, ratusan tumpeng dibawa ke atas bukit untuk kemudian dimakan bersama-sama. Selain tumpeng, gunungan berisi aneka hasil bumi Magelang juga diarak menuju puncak bukit bersama-sama. Selain itu, ada pula gunungan yang ditempel ribuan kertas berisi doa-doa dari masyarakat. Berbagai doa yang ditulis masyarakat tersebut mayoritas berisi tentang harapan Indonesia yang aman dan damai.

“Ya Allah, jadikanlah negeriku aman dan damai. Jangan biarkan perpecahan menimpa negeri ini,” petik salah satu doa itu.

Ada pula yang menuliskan doa untuk keperluan pribadi, seperti meminta diberikan rezeki yang melimpah, dikaruniai jodoh, anak dan sebagainya. Gunungan berisi doa tersebut kemudian dibakar bersama-sama diiringi lagu Lir-Ilir.

Aneka kesenian tradisional memeriahkan acara yang juga dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, wali kota dan bupati Magelang serta jajaran Forkompimda Magelang. Setelah acara doa bersama dan ritual-ritual lainnya, masyarakat kemudian menggelar makan bersama nasi tumpeng yang dibawa itu di atas bukit.

Ganjar bersama pejabat penting lainnya duduk lesehan bersama warga untuk makan nasi tumpeng bersama. Keakraban begitu terlihat karena tidak ada sekat di antara mereka. “Ini acara Slametan Puser Bumi. Acara ini rutin kami gelar untuk berdoa kepada Tuhan agar diberikan keselamatan,” kata Ketua Panitia, Arianto.

Acara Slametan Puser Bumi, lanjut dia sangat tepat dilakukan saat ini. Adanya pesta demokrasi lima tahunan yakni Piplres dan Pileg 2019 membuat masyarakat mulai terpecah dengan maraknya isu hoaks, fitnah yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Harapannya dengan kegiatan ini Indonesia diberi keselamatan dan kedamaian. “Ini juga nguri-uri budaya Jawa,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam sambutannya mengatakan, acara Slametan Puser Bumi ini menjadi momentum yang baik untuk berdoa bersama agar negara ini rukun dan semakin makmur.

“Semoga, dengan berdoa bersama ini semua masyarakat Jawa Tengah dan Indonesia semakin rukun, persaudaraan semakin erat dan tidak terpecah belah,” kata dia.

Masyarakat lanjut dia harus sadar, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan berbagai macam perbedaan yang ada. Beda warna kulit, beda suku, agama, ras, golongan. “Perbedaan itu harus menjadi pemersatu,” ujar Ganjar. (lhr/bun)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia