Kamis, 25 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

20 Tahun Kumpulkan 1.500 Keris, Semua Bernilai Sejarah

25 Maret 2019, 23: 59: 50 WIB | editor : Perdana

20 Tahun Kumpulkan 1.500 Keris, Semua Bernilai Sejarah

TIDAK sekadar menciptakan keris bernilai tinggi, para empu juga mengumpulkan keris-keris warisan Indonesia yang memiliki filosofi dan sejarah. Ini dilakukan agar keris tersebut tidak hilang, dan generasi selanjutnya bisa mengetahui bentuk dan makna keris tersebut.

Hal ini yang dilakukan Empu Basuki Teguh Yuwono. Sejak 1999, dia mengumpulkan keris peninggalan kerajaan dari seluruh nusantara, atau buah karya empu tersohor pada masanya. Sekarang ada sekitar 1.500 keris yang menjadi koleksinya. Koleksi ini tersusun rapi di museum pribadi yang berada di padepokan dia.

Seperti keris dari Keraton Kasusnanan Sumenep, Kerajaan Bali, Palembang, Bengkulu Mataram, dan lainnya. Tidak hanya itu, keris-keris karya Empu Tirtogongso, Brojoguno, Joyosukartjo, dan empu lain juga menjadi koleksi. Terbaru adalah Keris Nagapandu yang diselamatkan dari tangan seorang kelektor asal Belanda.

“Keris ini baru tahun ini saya dapatkan. Kalau di naskah keris ini cuma ada tujuh buah. Biberikan pada bangsawan Bugis, yang membantu perjuangan Bali atas Lombok. Jenisnya keris Linggan, dengan motif emas murni, dan hulunya dari kayu cendana. Kalau dari catatan, ini dibuat diawal abad ke 17,” jelas Basuki.

Sebelum dipamerkan di mini museum miliknya, sebelumnya dia mengali data tersebut, apakah punya nilai sejarah atau tidak. “Kalau ada, maka saya akan coba tembung. Ya nanti tentu ada mahar untuk memiliki keris tersebut,” paparnya.

Basuki sejak 2012 sudah membuat mini museum keris pertama di Jawa Tengah. Hal ini sebagai perwujudan di mana dia masih aktif dan konsisten di dunia keris. Namun tidak hanya cipta karya semata, namun kosep museum ini menjadi salah satu kiblat pelestarian dan pengembangan keris.

“Padepokan ini menjadi proses edukasi. Jadi kami mengemas  bagaimana memberikan edukasi, ilmu dan pengetahuan dalam dunia perkerisan sehingga tidak dipandang secara bias,  karena sekarang ini banyak sekali pendangkalan dan pembiasan dalam ilmu perkerisan,” urainya.

Tidak hanya keris, Basuki juga mengkaji naskah-naskah kuno yang berkaitan dengan keris. Di mana dia melakukan duplikasi beberapa karya manuskrip kuno. Agar seperti aslinya, naskah tersebut juga ditulis di atas media lontar.  “Kami transkrip ke Bahasa Indonesia juga supaya informasi di dalamnya dapat tersampaikan secara utuh,” jelasnya.

Upaya pelestarian yang dikonsep oleh padepokan tak melulu menyimpan koleksi maupun produksi, artinya yang bersifat fisik. Kegiatan non-fisik berupa penyebaran informasi seluas-luasnya kepada masyarakat, maupun kalangan terpelajar juga dilakukan. 

“Kegiatan itu bisa berupa seminar, pameran, pembuatan buku, maupun penyebaran informasi berupa DVD pembuatan keris. Tidak hanya dari akademisi, tapi juga perajin,”  jelasnya. (atn/bun)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia