Minggu, 21 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Angka Kematian Anak Merangkak Naik

13 April 2019, 20: 46: 39 WIB | editor : Perdana

PEMERIKSAAN BALITA: Pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu Desa Bawak, Kecamatan Bayat, Klaten oleh petugas kesehatan setempat, kemarin (12/4).

PEMERIKSAAN BALITA: Pemantauan tumbuh kembang anak di Posyandu Desa Bawak, Kecamatan Bayat, Klaten oleh petugas kesehatan setempat, kemarin (12/4). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Kematian anak baru lahir di Kabupaten Klaten terus mengalami kenaikan setiap tahunnya. Rata-rata disebabkan kekurangan asupan gizi. Berat badan anak kurang dari 2,5 kg. mencegah tren tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten melakukan intervensi kepada calon ibu sejak remaja.

Berdasarkan data dari Dinkes Klaten, dari 17 ribu ibu hamil di 2018, 170 kematian anak didominasi usia 0-28 hari. Sedangkan pada 2017 ada 168 anak meninggal. Mengalami kenaikan meskipun hanya dua kasus. Sementara kasus kematian anak pada Januari-Maret 2019 mencapai 46.

”Jumlah ini membuat Klaten masuk 10 besar se-Jawa Tengah. Banyak faktornya penyebab. Mulai dari sosial ekonomi, meningkatkatnya kehamilan berisiko, hingga keterlambatan dibawa ke rumah sakit,” jelas Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Klaten Bekti Sayekti kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (12/4).

Kematian anak karena berat badangnya kurang dari 2,5 kg mayoritas dari lingkungan keluarga tidak mampu. ”Jika beratnya kurang dari 2,5 kg otomatis harus mendapat perawatan intensif. Biayanya cukup mahal. Bisa mencapai Rp 1 juta per hari,” jelas Bekti.

Upaya yang dilakukan Dinkes, memperhatikan kehidupan 1.000 hari pertama anak tersebut. Termasuk pemenuhan ASI eksklusif selama enam bulan. Dilanjutkan makanan pendamping hingga dua tahun. ” Semua fasilitas kesehatan tingkat pertama dan layanan kesehatan lainnya sudah ada. Tetapi untuk lintas sektoral belum seluruhnya. Sedangkan di perusahaan baru ada beberapa,” bebernya.

Resiko kematian anak terjadi karena terlalu sering melahirkan. Terutama yang memiliki lebih dari empat anak. Di 2018 terdapat 118 ibu. Serta jeda waktu melahirkan kurang dari dua tahun serta usia ibu sudah melebihi 35 tahun.

”Mengatasi ini tidak bisa mengandalkan Dinkes saja, tetapi semua pihak. Karena di lingkungan masyarakat, masih memiliki pemahaman tertentu terkait kelahiran. Ketika dilakukan pendampingan, kamu juga libatkan tokoh agama,” papar Bekti.

Kepala Dinkes Klaten Cahyono Widodo menambahkan, kematian ibu saat melahirkan pada 2018 terdapat 13 orang. Jumlah ibu meninggal saat melahirkan dapat ditekan dengan berbagai upaya. ”Kematian anak lebih banyak. Tetapi harapan kami dengan terpenuhinya kebutuhan ASI, daya tahan tubuh anak semakin kebal. Nutrisi bayi itu ya ASI,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia