Minggu, 21 Apr 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kikis Potensi Golput dengan Media Seni Lukis

14 April 2019, 09: 05: 59 WIB | editor : Perdana

OUT OF THE BOX: Mahasiswa Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menggambar Punakawan di kawasan Pasar Gede kemarin (13/4).

OUT OF THE BOX: Mahasiswa Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menggambar Punakawan di kawasan Pasar Gede kemarin (13/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Tingkat partisipasi pemilih menjadi salah satu indikator suksesnya Pemilu 17 April mendatang. Segala upaya dikerahkan menekan golongan putih (golput). Salah satunya menggunakan media seni lukis.

A. Christian¸ Solo.

TROTOAR Pasar Gede dipadati puluhan mahasiswa Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pagi kemarin (13/4). Meskipun sama-sama membawa spanduk, tapi mereka bukan hendak demonstrasi.

Spanduk putih polos yang dibentangkan di tembok Pasar Gede Jalan urip Sumoharjo itu  dijadikan media menggambar Punakawan. Masing-masing mahasiswa bergegas mengeluarkan kuas, cat minyak, dan cat semprot dari wadah penyimpanan.

Sekitar 30 menit kemudian, gambar pola punakawan Semar, Gareng, Petruk, Bagong terbentuk. Tahapan selanjutnya adalah mewarnai pola dengan beragam warna menggunakan cat semprot, cat minyak. 

Tidak hanya mewarnai, para mahasiswa juga membubuhkan tulisan di antaranya ajakan menyukseskan Pemilu 2019. Seperti karakter Petruk yang seolah mengatakan Bedo Pilihan Tetep Seduluran. Sedangkan karakter Gareng lebih gaul dengan menuturkan, Pemilu? Gas Ke Lur.

Sedangkan Bagong berucap Tanggal Pitulas Neng TPS Yo Mas, dan Semar menimpali dengan Ayo Sat-Set Neng TPS. Di dekat gambar Punakawan terdapat tulisan Pemilu Aman Solo Yyaman dan Pemilu Jujur Mudak Akur.

Kenapa dipilih gambar Punakawan? “Pertama karena Punakawan itu tokoh pewayangan yang mewakili masyarakat. Mereka ini juga simbol pelayan. Harapannya, siapa pun nanti calon yang tepilih, bisa menjadi pelayan bagi masyarakat,” terang salah seorang mahasiswa Guntur Utomo.

Persiapan kegiatan tersebut cukup singkat. Hanya tiga hari. Mereka berharap, gambar Punokawan di Pasar Gede bisa meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan hak pilihnya pada Pemilu 2019. Khususnya pemilih pemula dan kalangan milenial.

Kehadiran gambar tokoh pewayangan itu ikut menyita perhatian pengguna jalan. Mereka menyempatkan waktu untuk memotretnya dan berswafoto. 

“Beda pilihan boleh. Tapi, jangan sampai bertengkar. Apalagi golput. Karena (pemilu, Red) ini menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan,” kata Komisioner Divisi Hukum, Data, dan Informasi Bawaslu Solo Agus Sulistyo. 

Sosialisasi pemilu dengan cara membuat mural, lanjut dia, efektif menarik simpati warga. Terbukti, warga yang berbelanja di Pasar Gede banyak yang berhenti menonton pembuatan gambar. “Kalau sosialisasi hanya menggunakan pengeras suara, itu sudah biasa dan tidak unik. Cara seperti ini sangat unik bisa menarik perhatian,” urainya.

“Tokoh punakawan itu melayani sepenuh hati. Begitu pula kami, akan siap melayani terselenggaranya pemilu lancar dan damai,” pungkas Agus. (*/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia