“Air di sumber keruh. Karena tanaman di puncak Merbabu terbakar semua. Jadi air yang mengalir terbawa tanah. Abu sisa kebakaran Merbabu juga masuk,” kata Suripto, warga Desa Ngagrong, kemarin (23/12).
Warga terpaksa mengendapkan air dari sumber di Tuk Sipendok untuk sementara waktu. “Meski sudah diendapkan. Tetap saja masih ada keruh-keruhnya sedikit,” imbuhnya.
Warga yang memanfaatkan air dari sumber di Merbabu terus berjibaku dan berupaya mengantisipasi dampak tanah longsor. Serta saluran irigasi yang tersumbat akibat longsor tersebut.
“Kalau musim hujan seperti sekarang ini, harus sering-sering naik. Mengecek saluran pipa dan bak penampungan air. Karena sering tersumbat tanah longsor saat hujan lebat turun,” sambung Widiyatmo, 45, warga Desa Ngagrong lainnya.
Warga khawatir, dampak kebakaran hutan Merbabu berbuntut panjang. Mereka khawatir debit air yang ada di sumber berkurang. Sebab kawasan hutan banyak yang gundul.
“Kami berharap bibit pohon yang baru ditanam di wilayah puncak Merbabu segera tumbuh subur. Bisa mengembalikan fungsi hutan Merbabu seperti semula. Sumber airnya bertambah banyak,” ujarnya. (wid/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra