Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Erupsi Merapi Mengancam, Bangun Jembatan Gantung untuk Jalur Evakuasi

Perdana Bayu Saputra • Sabtu, 15 Februari 2020 | 21:02 WIB
Rombongan Sekda Boyolali meninjau lokasi pembangunan jembatan gantung di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, kemarin pagi (14/2).
Rombongan Sekda Boyolali meninjau lokasi pembangunan jembatan gantung di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, kemarin pagi (14/2).
BOYOLALI – Erupsi Gunung Merapi, Kamis pagi (14/2), membuat warga di Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali waswas. Sebab jembatan gantung yang merupakan jalur utama evakuasi sudah lama putus. Nah, harapan mereka akan jembatan baru segera terwujud. Diperkirakan proyek jembatan gantung baru menelan Rp 4,5 miliar.

Jembatan gantung tersebut menghubungkan jalan Solo-Selo-Borobudur (SSB) dengan tiga dusun di Desa Jrakah. Yakni Dusun Bakalan, Sumber, dan Bangunsari. Setelah lama putus, warga di sana terpaksa jalan memutar yang jaraknya sekitar 6 kilometer (km). Akses jalannya harus naik dulu mendekat kawasan puncak Merapi.

Sebelum dibangun jembatan gantung baru, Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Masruri bersama rombongan mengecek lokasi, kemarin (14/2). Menurutnya, jembatan tersebut dibangun dengan anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

“Kasihan teman-teman dari Bangunsari kalau Merapi erupsi. Kalau jembatan sudah dibangun, mereka tidak perlu naik. Cukup lewat sini semu  . Lebih dekat,” ungkap sekda kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Boyolali Bambang Sinungharjo menambahkan, keberadaan jembatan gantung cukup vital. Jembatan ini akan menjadi jalur alternatif saat mengevakuasi 1.100 jiwa dari tiga dusun.

“Itu merupakan jalan terdekat. Merupakan jalur evakuasi apabila terjadi erupsi. Karena sebelum ada jembatan gantung, warga memutar 3-6 km,” tandasnya.

Kepala Desa (Kades) Jrakah Tumar mengakui jembatan gantung sudah lama putus. Pernah, warga dan pemerintah desa berkali-kali membangun jembatan darurat dari bambu. Namun selalu hancur diterjang banjir lahar dingin.

“Kalau musim kemarau, warga masih bisa menyebrangi sungai yang kering. Itu pun hanya pejalan kaki. Kalau kendaraan tidak bisa. Tetap harus memutar jauh,” bebernya. (wid/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra
#Jembatan Gantung #desa jrakah #gunung merapi #erupsi #jalur evakuasi