Jembatan gantung tersebut menghubungkan jalan Solo-Selo-Borobudur (SSB) dengan tiga dusun di Desa Jrakah. Yakni Dusun Bakalan, Sumber, dan Bangunsari. Setelah lama putus, warga di sana terpaksa jalan memutar yang jaraknya sekitar 6 kilometer (km). Akses jalannya harus naik dulu mendekat kawasan puncak Merapi.
Sebelum dibangun jembatan gantung baru, Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali Masruri bersama rombongan mengecek lokasi, kemarin (14/2). Menurutnya, jembatan tersebut dibangun dengan anggaran dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Kasihan teman-teman dari Bangunsari kalau Merapi erupsi. Kalau jembatan sudah dibangun, mereka tidak perlu naik. Cukup lewat sini semu . Lebih dekat,” ungkap sekda kepada Jawa Pos Radar Solo.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Boyolali Bambang Sinungharjo menambahkan, keberadaan jembatan gantung cukup vital. Jembatan ini akan menjadi jalur alternatif saat mengevakuasi 1.100 jiwa dari tiga dusun.
“Itu merupakan jalan terdekat. Merupakan jalur evakuasi apabila terjadi erupsi. Karena sebelum ada jembatan gantung, warga memutar 3-6 km,” tandasnya.
Kepala Desa (Kades) Jrakah Tumar mengakui jembatan gantung sudah lama putus. Pernah, warga dan pemerintah desa berkali-kali membangun jembatan darurat dari bambu. Namun selalu hancur diterjang banjir lahar dingin.
“Kalau musim kemarau, warga masih bisa menyebrangi sungai yang kering. Itu pun hanya pejalan kaki. Kalau kendaraan tidak bisa. Tetap harus memutar jauh,” bebernya. (wid/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra