Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Aktivitas Vulkanik Merapi Kian Intens, Jeda Waktu Erupsi Makin Dekat

Perdana Bayu Saputra • Kamis, 29 Oktober 2020 | 20:55 WIB
Ilustrasi Gunung Merapi yang masih berstatus level 3 dan beberapa kali mengeluarkan guguran awan panas. (RADAR SOLO PHOTO)
Ilustrasi Gunung Merapi yang masih berstatus level 3 dan beberapa kali mengeluarkan guguran awan panas. (RADAR SOLO PHOTO)
BOYOLALI - Sudah lebih dua tahun terakhir aktivitas Gunung Merapi masuk di level dua atau waspada. Jumlah guguran tak terhitung lagi. Bahkan, beberapa kali letusan kecil juga sempat menghebohkan  lantaran kolong asapnya yang menjulang tinggi. Namun, hal tersebut tak membuat masyarakat sekitar panik.

Aktivitas Gunung Merapi masih terus berlanjut. Bahkan saat ini aktivitas vulkanik semakin intensif dengan kejadian gempa vulkanik dangkal, yang rata-rata mencapai enam kali per hari. Sedangkan gempa multiface sebanyak 83 kali per hari.

Bahkan deformasi (perubahan bentuk/penggembungan) mencapai 2 sentimeter per hari. Hal ini menunjukkan waktu erupsi berikutnya semakin dekat. Berdasarkan data pemantauan tersebut, diperkirakan erupsi berikutnya tidak sebesar tahun 2010. Namun, cenderung mengikuti perilaku erupsi 2006

”Erupsi Merapi sebuah keniscayaan. Hidup harmoni sudah menjadi bagian pola hidup masyarakat Gunung Merapi,” ujar Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida.

Menurut dia, erupsi Gunung Merapi tahun ini jauh berbeda dengan erupsi 2010 dan 2006. Erupsi kali ini memiliki rangkaian panjang, yang dimulai Mei 2018. Di mana erupsi tahun ini didominasi dengan gas yang bersifat eksplosif. Namun, indeks eksplosifitasnya terendah yaitu 1. Indeks eksplosifitas itu masih seperseribunya dari erupsi 2010 lalu.

Di lain sisi, tak terasa tiga hari lalu tepat satu dekade Gunung Merapi meletus. Tepatnya pada 26 Oktober 2010. Bencana alam yang berdampak ke wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah itu telah menewaskan 353 warga. Salah satu yang menjadi korban adalah Raden Ngabehi Surakso Hargo atau yang kerap disapa Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi.

Momen 10 tahun lalu tersebut masuk terbilang erupsi besar. Erupsi Gunung Merapi dengan indeks 4 ini pernah terjadi seratus tahun lalu, yakni pada 1872.

Hanik mengungkapkan, erupsi 2010 memberikan pembelajaran yang sangat berarti dalam pengelolaan bencana gunung api. Apalagi, saat erupsi 2010 itu Undang-Undang Penanggulangan Bencana belum lama terbentuk. Dan pemerintah daerah (pemda) belum membentuk badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) yang menangani bencana.

Belum terbentuknya lembaga khusus untuk menangani kebencanaan tersebut membuat kegiatan mitigasi dilakukan oleh berbagai pihak. Peneliti, operasional penanggulangan bencana, pemerintah, nonpemerintah, relawan, dan masyarakat.

”Sehingga erupsi besar dengan jumlah pengungsi besar menjadi tantangan luar biasa. Dalam waktu singkat harus menangani pengungsi dengan jumlah hampir 500 ribu orang,” ungkap Hanik.

Erupsi 2010 tersebut memberikan pelajaran berharga dalam mitigasi bencana gunung api. Termasuk mengantisipasi erupsi Gunung Merapi andaikata kembali terjadi di tengah pandemi Covid-19.

”Evaluasi dan analisis data harus tetap dilakukan. Informasi harus tersampaikan kepada pemerintah dan masyarakat,” ujarnya. (wid/nik/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#aktivitas vulkanik #gunung merapi #BPPTKG Jogjakarta #erupsi #satu dasawarsa erupsi merapi