Embung Giriroto termasuk salah satu di antara 103 embung yang selesai dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (Kemen PUPR) pada 2018. Melengkapi 949 lainnya yang dibangun periode 2015-2018. Bertujuan menopang supai air dari Waduk Cengklik untuk sektor pertanian.
Dibangun Kemen PUPR melalui Balai besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Ditjen Sumber Daya Air (SDA). Memiliki luas 1,3 hektare, kedalaman 6 meter, dengan volume air 48.000 meter kubik. Menelan anggaran Rp 12,14 miliar.
Keberadaan embung ini untuk menopang areal pertanian di Desa Giriroto seluas sekitar 156 hektare. Setelah terjadi penurunan fungsi pengairan di Waduk Cengklik pada 2018 silam.
“Embung ini dibangun untuk konservasi air bagi pertanian. Sekaligus menambah suplai air Daerah Irigasi Cengklik,” terang Kepala Desa (Kades) Giriroto Purwanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (16/5).
Sebelum dibangun embung, petani di Giriroto hanya mampu memanen padi dua kali. Kini, petani kian semringah. Karena tak hanya dua kali panen saja. Namun juga bisa menanam kacang, jagung, dan palawija.
”Harapan kami, embung ini tidak sekadar untuk konservasi air dan irigasi semata. Namun bisa multifungsi. Sekaligus menjadi objek wisata air,” imbuh kades.
Ya, belakangan ini, pemerintah desa (pemdes) setempat mulai rajin menata kawasan Embung Giriroto. Salah satunya menggalakkan sektor pariwisata. Bertujuan untuk menambah pendapatan asli desa (PADes). Sekaligus meningkatkan perekonomian warga sekitar.
Penataan meliputi areal parki luas. Mampu menampung puluhan kendaran roda dua dan empat. Selain itu, di sisi pagar embung dibuat tulisan (Embung Giriroto) untuk memfasilitasi pengunjung yang ingin berswafoto.
Wisata di Embung Giriroto dikelola secara profesional oleh badan usaha milik desa (BUMDes) setempat. Tiket masuk yang dibebankan ke pengunjung cukup terjangkau. Bahkan untuk menarik minat wisatawan, sering digelar berbagai event. Mulai dari kesenian Reog, acara musikalitas, hingga senam sehat.
“Embung ini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Ada yang dari Boyolali sendiri, Solo, Sukoharjo, Klaten, dan Sragen. Bahkan ketika ada acara, pengunjung makin ramai,” beber kades.
Wahana lain yang ditawarkan, yakni becak mini, sepeda bebek air, kapal, hingga remot control (RC). Tiket per wahana tak menguras kantong. Rata-rata Rp 2 ribu-Rp 20 ribu.
“Wisata embung dibuka tiap Senin-Jumat pukul 13.00-18.00. Tiap Sabtu dan Minggu buka mulai pukul 06.00-18.00. Mayoritas pengunjung yang datang untuk jogging, bersepeda, termausk memancing,” terang pengelola Embung Giriroto Sugeng Riyadi.
Ke depan, bakal ditambah wahana wisata lainnya di Embung Giriroto. Di antaranya outbound, water boom, dan sebagainya. “Selain sensasi menikmati keindahan alam pedesaan, kami juga ingin sediakan wahana wisata edukatif,” ujarnya.
Sementara itu, selama pandemi Covid-19 dan bulan suci Ramadan ini, kebijakan baru dibuat pengelola Embung Giriroto. Wisata hanya dibuka sore hari. “Selama pandemi protokol kesehatan (prokes) kami terapkan sesuai SOP (standar operasional prosedur),” jelasnya. (Mg2/Mg3/fer/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra