Dasno mengaku sudah jualan dawet khas Dibal sejak era 1970-an. Dia jualan memikul dawet keliling Kota Susu –julukan Kabupaten Boyolali–. Bahkan, dia juga sering menjajakan minuman tradisional yang terkenal akan cendolnya tersebut hingga kawasan Pasar Kembang, Laweyan, Solo.
“Kalau sedang musim panen padi dan jagung, saya sering berhenti di gubuk-gubuk pinggri sawah. Setahu saya, dari Desa Dibal ada sekitar 25 penjual dawet keliling. Sekarang yang tinggal saya saja yang masih bertahan,” ujar Dasno kepada Jawa Pos Radar Solo.
Diakui Dasno, dulu Dibal terkenal sebagai sentra dawet. Memiliki cita rasa tersendiri yang beda dengan dawet dari daerah lainnya. Tak heran, dawet Dibal masih digandrungi masyarakat lintas generasi.
“Isinya hampir sama dengan dawet lainnya. Ada cendol pati, ketan hitam, tape, dan irisan nangka. Yang beda itu racikan santan dan gula merahnya. Harganya satu magkok Rp 4 ribu,” bebernya.
Dasno mulai berhenti jualan keliling sekitar dua tahun silam. Memilih jajakan dagangan di sekitar bandara yang tak jauh dari rumahnya. Buka mulai pukul 09.00 sampai dagangan habis. “Selama Ramadan ini tidak jualan dulu. Karena biasanya sepi yang beli kalau bulan puasa,” katanya. (mg2/mg3/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra