Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

FBM Desak BPCB Selamatkan Temuan Prasasti di Kebun Tembakau Wonosegoro

Perdana Bayu Saputra • Selasa, 1 Juni 2021 | 07:47 WIB
Guratan pada batu prasasti yang teridentifikasi sebagai huruf Jawa kuno. Batu prasasti ini ditemukan di tengah kebun tebu milik warga di Dusun Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Guratan pada batu prasasti yang teridentifikasi sebagai huruf Jawa kuno. Batu prasasti ini ditemukan di tengah kebun tebu milik warga di Dusun Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
BOYOLALI - Sebuah prasasti yang tertulis di atas sebongkah batu ditemukan di lahan kebun tembakau milik warga di Dusun Wonosegoro, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali. Temuan ini menarik perhatian para pemerhati cagar budaya yang tergabung dalam Forum Budaya Mataram (FBM).

Dipimpin Ketua Umum B.R.M. Kusumo Putro, para anggota FBM pun mendatangi temuan prasasti di Dusun Wonosegoro tersebut. Medan yang cukup berat mesti dilalui untuk bisa sampai di lokasi. Ini karena keberadaan batu besar itu terletak di lereng pegunungan dengan tingkat kemiringan tanah yang cukup tinggi.

Sesampai di lokasi, tampak batu berdiameter sekitar 1 meter persegi itu ditutupi plastik hitam. Sementara di sekelilingnya tumbuh subur tanaman tembakau, yang menaungi keberadaan batu itu.

Saat plastik dibuka, keberadaan guratan tulisan di atas batu itu sepintas tidak tampak. Apalagi beberapa sisi batu tersebut juga tampak terkikis. Sehingga ada beberapa huruf yang tidak jelas atau bahkan hampir hilang.

Satu per satu huruf yang tergurat di atas batu itu mulai terlihat setelah sebotol air disiramkan di atas batu. Tampak barisan huruf yang teridentifikasi sebagai huruf Jawa kuno tergurat rapi di sisi barat batu.

"Dari keterangan Mas Wahyudi (ahli sastra kuno) bunyi prasasti itu adalah 'swasti çāka warṣātīta 823 jyaṣṭa māsa, pañcami çukla ha wa so. kāla niki paçarūṅga'. Yang artinya  kurang lebih 'Selamat tahun 832 bulan jiasta tanggal 5 hariang wage soma tempat ini bernama Pasyarungga'. Namun tulisan berikutnya yang menunjukkan pembuat prasasti ini hilang terkikis," ujar pegiat sejarah Boyolali yang juga Wakil Ketua FBM R.M. Surojo.

Dari keterangan dalam prasasti itu disebutkan kata Pasyarungga sebagai nama dari tempat di mana benda itu berada. Itu artinya bahwa prasasti itu bisa juga disebut dengan nama Prasasti Pasyarungga.

Kata Pasyarungga, terang Surojo, juga disebut dalam catatan Prabu Jaya Pakuan atau Bujangga Manik, seorang resi Hindu dari kerajaan Sunda. Yakni sebagai sebuah tempat untuk mengkaji agama Hindu yang berada di kaki Gunung Damalung (Merbabu).

Sementara itu, Kusumo Putro mengaku khawatir jika terjadi pengikisan yang lebih banyak pada batu prasasti itu. Oleh karena itu, dia mendesak pihak terkait untuk segera melakukan penyelamatan, dengan mengevakuasi batu tersebut ke tempat yang lebih aman.

"Kalau kita lihat, kondisi di sekitar prasasti ini rawan longsor. Apalagi ini di tengah perkebunan warga, yang tentu saja akan sangat rentan mengalami kerusakan akibat kelalaian manusia saat menggarap lahan. Karena itu, kami meminta pihak terkait, dalam hal ini BPCB segera melakukan upaya penyelamatan. Jangan sampai prasasti ini nantinya benar-benar rusak dan kita kehilangan informasi penting terkait sejarah bangsa kita," ujarnya.

Dari pengamatannya, lanjut Kusumo, tampak ada coretan nomor registrasi yakni 044, yang tertera di atas batu itu. Itu berarti bahwa pihak BPCB telah mendata keberadaan batu prasasti tersebut. Sehingga dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dia meminta BPCB segera memindahkan batu itu.

"Upaya penyelamatan menjadi prioritas yang harus segera dilakukan. Kalau pun misalnya ada kesulitan untuk memindahkan batu itu karena terkendala medan yang berat, mungkin bisa saja dengan membangun pagar pengaman yang disertai atap. Tujuannya melindungi batu ini dari pengikisan oleh alam ataupun perusakan oleh tangan-tangan jahil," beber dia.

Menurut Kusumo, selain nilai sejarah sangat tinggi, prasasti itu merupakan bagian dari sejarah Kerajaan Mataram Kuno. Bukan tidak mungkin ada rangkaian prasasti lain di sekitar keberadaan batu itu yang belum terungkap. Sebab, sebuah guratan-guratan yang seperti membentuk pola tertentu juga terlihat di batu yang berada di sebelah prasasti. Sehingga bukan tidak mungkin itu merupakan sebuah relief yang melengkapi keterangan dalam prasasti.

"Tentu kita tidak ingin sejarah peradaban nenek moyang dulu hilang begitu saja akibat kelalaian kita semua. Karena itu hendaknya pihak BPCB segera bertindak. Bukan hanya melakukan pengamanan, tetapi juga melakukan eksplorasi lebih jauh untuk mendalami arti keberadaan prasasti itu. Serta kemungkinan adanya temuan situs-situs pendukung lain di sekitarnya," pungkas pria yang juga menjabat ketua Dewan Pemerhati dan Pelestari Seni Budaya Indonesia (DPPSBI) itu. (ryn/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#forum budaya mataram #temuan prasasti di kebun tebu #batu prasasti #wonosegoro