Camat Ngemplak Kariyono mengatakan pihaknya dan pemerintah desa setempat akan berkoordinasi dengan paguyuban PKL depan Asrama Haji Donohudan. Mereka diimbau untuk tidak berjualan di sekitar lokasi karantina selama proses karantina pasien OTG asal Kudus. Hal tersebut untuk mengantisipasi penularan.
"Untuk yang jualan telah kami koordinasikan dengan pemerintah desa dan paguyuban PKL setempat, untuk tidak ada yang berjualan depan asrama lagi. Ini sifatnya himbauan, dan penjagaan ini juga diperketat," terangnya.
Kemudian untuk masyarakat sekitar Asrama Haji, juga diimbau untuk tidak menjalankan ibadah Salat di Masjid Mabrur yang berada di dalam Asrama Haji Donohudan. Masyarakat diimbau untuk beribadah di tempat masing-masing atau masjid yang berada dizona hijau.
"Warga sendiri dengan adanya penampungan isolasi mandiri sementara bagi pasien OTG asal Kudus, tidak mempermasalahkannya. Namun, mereka minta tetap ada penyemprotan disinfektan bagi kendaraan keluar masuk area asrama. Lalu ambulan yang membawa pasien diharapkan tidak menyalakan sirine agar warga tidak khawatir. Karena memang wajar jika warga merasa khawatir," imbuhnya.
Sementara itu, pedagang cilok di depan Asrama Haji Donohudan, Dani Krisnanto asal Tegalan, Ngemplak mengatakan pihaknya mengikuti intruksi dari paguyuban PKL dan pemerintah desa setempat. Apalagi penjagaan juga ketat.
"Kalau dari paguyuban saya ngikut aja, soalnya berisiko juga dan khawatir juga. Sebelumnya, isolasi penjagaan tidak seketat ini. Rencana mau libur dulu, tapi kalau ada tempat lain bisa pindah jualan. Kalau tidak ada mau libur dulu," terangnya. (rgl/dam) Editor : Perdana Bayu Saputra