Kepala Dinkes Boyolali Ratri S. Survivalina mengatakan, tes pemeriksaan Covid-19 diganti dari swab PCR menjadi rapid antigen. Boyolali masuk dalam wilayah kriteria C pada penggunaan swab antigen. Penggunaan alat swab antigen sudah diberlakukan sebagai alat pemeriksaan Covid-19. Sehingga penggunaan swab antigen berlaku untuk proses tracing atau pelacakan dan skrining pada klaster penularan Covid-19.
”Karena swab PCR mengalami kendala waktu dan tempat. Sedangkan angka paparan terus bertambah,” terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (6/7).
Perempuan yang akrab disapa Lina ini menambahkan, penanggulangan pandemi harus dilakukan dengan penyelidikan epidemologi dan pelacakan kontak. Semakin cepat pelacakan dilakukan, langkah untuk meminimalisir potensi penyebaran bisa dilakukan. Sedangkan swab PCR memakan waktu cukup lama. Waktu tunggu pengiriman sampel lebih dari 24 jam. Sedangkan waktu tunggu hasil pemeriksaan PCR lebih dari 48 jam.
”Waktu tunggu swab PCR bisa sampai 10 hari. Ini cukup lama. Sehingga kami memberlakukan swab antigen sebagai alat tes untuk tracing dan skrining. Akurasi swab antigen mencapai 92 persen hampir sama dengan swab PCR,” terangnya.
Menurutnya, tingginya angka paparan Covid-19 selama beberapa pekan terakhir bukan dikarenakan antrean laboratorium. Melainkan adanya mutasi virus delta dengan penyebaran yang cepat. Di sisi lain, sudah ada dua klaster dari Kudus yang diduga membawa virus varian baru ini.
Sampai saat ini ada 48 klaster aktif yang ada di Boyolali. Klaster aktif ini didominasi klaster keluarga dengan total kasus aktif 3.301. Pasien yang menjalani perawatan sebanyak 294 orang, sedangkan yang menjalani isolasi mandiri sebanyak 3.007 orang. Penambahan kasus pada pukul 14.08 (6/7) sebanyak 433. Angka kesembuhan 72,2 persen dan angka kematian 4,0 persen.
”Boyolali masih berada di zona risiko sedang dengan skor indeks kesehatan masyarakat (IKM) 2,08. Lonjakan kasus ini diduga berasal dari varian baru, karena penyebarannya sangat cepat dan masif,” imbuhnya.(rgl/adi/fer/dam) Editor : Damianus Bram