Antrian kendaraan mengular sejak pagi. Dalam sehari bisa 50-60 kendaraan yang mengantri. Lokasi uji KIR baru dipakai perdana Senin (2/7) lalu. Tak hanya itu, peremajaan alat KIR juga dilakukan. Alat pengujian berbasis digital ini mampu memangkas waktu pemeriksaan dengan tingkat akurasi tinggi.
Koordinator Penguji KIR Dishub Boyolali Dhika Prasetyo Jati mengatakan, penggunaan alat uji KIR ini baru dilakukan awal bulan ini. Boyolali mengubah standar pemeriksaan kendaraan yang awalnya menggunakan Japan Industrial Standard (JIS) menjadi standar eropa.
"Kita masih trial, ujicoba. Karena alat baru ini jelas beda proses uji dan perlakuannya. Sekarang kami menyesuaikan standar perusahaan Eropa. Apalagi standar tingkat keselamatannya lebih tinggi Eropa," ungkapnya pada Selasa (3/8).
Alat uji kendaraan berbasis digital ini perlu disosialisasikan pada masyarakat. Sebab standar kelayakan juga berbeda dan lebih tinggi. Selain itu, data hasil pemeriksaan otomatis terintegrasi dengan database Dishub Boyolali. Begitu pengecekan kendaraan selesai, lolos tidaknya uji KIR secara otomatis dikeluarkan oleh sistem.
"Jadi kami tak perlu lagi manual. Dipastikan tidak ada data yang ditambah atau dikurangi. Karena secara otomatis datanya dikeluarkan sistem dari alat yang menguji," terangnya.
Dhika menjelaskan tahap awal dilakukan registrasi pendaftaran. Karena dimasa PPKM, pendaftaran dibatasi sampai pukul 10.00. Selanjutnya dilakukan pra uji berupa visual kendaraan dan uji emisi gas buang. Petugas akan memasukan alat pada knalpot mobil, selanjutnya secara otomatis, komputer mengitung besaran gas CO dan HC yang dikeluarkan. Apakah melebihi ambang batas atau tidak.
Setelahnya dilakukan pemeriksaan bagian bawah kendaraan menggunakan play detector. Pemeriksaan ini menggunakan kamera monitor yang ditampilkan langsung pada layar. Pengemudi bisa melihat titik mana saja yang perlu dibenahi. Pemeriksaan kincu roda depan mobil juga lebih mudah.
Mobil cukup melewati metal detektor yang dilengkapi dengan sensor. Secara otomatis diketahui apakah ban terlalu keluar atau masuk ke dalam. Komputer juga menampilkan gambar 3 dimensi (3D) dan menunjukan pergeseran pada ban. Dilanjutkan dengan uji lampu utama menggunakan head light tester serta pengujian pengukuran kecepatan dengan speedometer tester.
Semua pemeriksaan akan menampilkan gambar 3D untuk memudahkan pengendara untuk mengetahui bagian mobil yang perlu diperbaiki. Tak hanya itu, pemeriksaan rem dan timbangan menggunakan alat brake tester dan axle load meter. Pemeriksaan tak hanya kekuatan pengereman saja, namun, juga perlambatam roda.
"Dengan pemeriksaan yang lebih rigit dan standarnya juga naik diharapkan bisa meminimalisir potensi kecelakaan karena malfungsi kendaraan. Karena memang masih baru, dan proses pemeriksaannya berbasis digital memang masih perlu edukasi ke masyarakat," terangnya.
Pengujian 69 kendaraan bisa memakan waktu sampai 9-10 jam. Karena banyak kendaraan yang gagal uji KIR. Terutama pada pemeriksaan mesin. Sedangkan dilihat dari efektivitasnya justru lebih baik dibandingkan saat menggunakan standar Jepang. Sebab data keluar otomatis dan terintegrasi langsung dengan database Dishub.
"Alat kami termasuk yang praktis dan ekonomis. Selain itu, begitu lolos uji KIR kita tidak lagi menggunakan buku, tapi sudah smard card. Kita juga tempel stiker berisi barcode dikaca sisi kiri. Cukup kita scan barcode semua data pengujian akan otomatis keluar. Jadi memudahkan saat pemeriksaan di luar nantinya," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dishub Boyolali Cipto Budoyo mengatakan pemindahan ini dilakukan karena lokasi uji KIR lama sudah 20 tahun. Termasuk alat uji KIR yang sudah berumur. Sehingga peremajaan alat perlu dilakukan. Pengadaan alat ini sudah dilakukan sejak 2020.
"Uji KIR kami jadikan satu untuk memudahkan pelayanan. Kami mulai buka pada Senin (2/8) sebanyak 56 kendaraan. Kami akan layani sampai selesainya uji KIR. Selain itu, kalau ada yang gagal uji KIR bisa uji lagi dibagian yang gagal," terangnya. (rgl/dam) Editor : Damianus Bram