Kejadian bermula saat Lamhot menerima orderan di daerah Singkil, Boyolali Kota. Setelah mengirim orderan, sekitar pukul 13.00 dia berniat kembali ke pangkalan untuk makan siang. Nahasnya, setelah menyebrang lampu merah menuju ke arah barat atau Jalan Sendang Lawe, Karanggeneng, dia merasa wajahnya tersengat tawon.
"Kebetulan saat itu saya paling depan, namanya juga lampu nerah, jadi kecepatan motornya agak tinggi. Sekitar 40 kilometer perjam. Sehabis menyebrang dan sampai di daerah perajin genteng saya merasa kaya disengat tawon. Tapi karena ramai saya terus melaju takut yang belakang kaget," bebernya pada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (9/9).
Reflek, Lamhot langsung memegang bagian muka dan mengurangi kecepatan motornya. Ternyata benang layangan sudah melintang diarea wajahnya. Benang tersebut melintang dari arah selatan ke utara dan tepat di jalan raya. Setelah sekitar lima meter, dia mencoba untuk berhenti. Belum sampai motornya distandarkan, Lamhot sudah kehilangan kesadaran.
"Yang saya ingat, ada ibu-ibu dipingir jalan yang teriak histeris. Beruntungnya di belakang ada temen ojol yang langsung membawa saya ke RS PKU Muhammadiyah. Disitu saya dapat perawatan dan mendapat empat jahitan hidung bagian dalam dan empat jahitan bagian luar," katanya.
Lamhot mengalami luka bagian hidung atas dekat alis, pelipin kiri dan luka ringan ditangan. Saat ini dia menjalani rawat jalan dan memilih beristirahat di rumah. Dia mengaku tidak mengetahui siapa yang bermain layangan di dekat jalan raya. Bahkan dia membayar sendiri biaya rumah sakit.
"Kita juga tidak bisa menyalahkan orang itu karena tidak tahu siapa yang bermain layangan. Ataukah itu layangan putus. Saya menganggap ini musibah dan tidak gimana-gimana. Namun, saran saya kalau main layangan jangan di jalan. Cukup saya saja yang jadi korban, jangan sampai ada korban lain lagi," terangnya.(rgl/dam) Editor : Damianus Bram