Tangis bayi di bawah lima tahun (balita) asal Dusun Randurejo RT 01, RW 03, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo itu pecah tatkala ada tamu yang mengunjungi rumahnya. Anak kedua dari Nur Ismiyati,25, dan Febri Nur, 25, ini terus menangis di pelukan sang ibu.
"Kalau ada tamu itu pasti nangis, dikiranya dokter," terang Ismi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Ruam membiru tampak di bibir dan beberapa bagian tubuhnya. Kondisi Clarissa memang sedang batuk dan pilek. Saat bajunya disingkap oleh sang ibu, bagian dadanya terlihat membengkak. Di sela-sela tangisnya, dia terus mengelus dadanya dan berteriak sakit pada ibunya.
Hampir satu tahun ini, Clarissa harus kontrol tiap bulannya ke rumah sakit di Jogjakarta. Kondisinya diketahui memburuk sejak usia enam bulan. Tubuh Clarissa memang kurus pada saat itu. Perkembangan berat badannya juga tidak kunjung naik. Tak hanya itu, sekujur tubuh bayi itu mulai membiru.
"Dikiranya hanya kurus saja. Tapi tubuhnya mulai membiru, langsung kami periksakan. Ternyata Clarissa mengalami jantung bocor," jelasnya.
Sejak saat itu, Clarissa harus menjalani rawat jalan dan kontrol tiap bulannya. Awalnya, Ismi dan suaminya bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, kondisi anak keduanya semakin memburuk dan membutuhkan perhatian lebih. Ismi akhirnya memilih resign untuk merawat sang anak.
Di usia 1,5 tahun, berat badan Clarissa hanya 6,4 kilogram (kg). Dia didiagnosa mengalami gizi buruk. Alhasil, dia harus minum susu formula khusus tiap harinya. Untuk mencukupi kebutuhan susu formula Ismi harus membeli seharga Rp 200 ribu per kaleng.
"Dikasih susu itu saja, pertumbuhannya lambat. Apalagi kalau dikasih susu yang standar, lebih lambat lagi dan saya kasihan. Sehari-hari juga hanya tiduran, kalau mau duduk harus didudukkan. Kelamaan duduk dia juga ngos-ngosan," katanya.
Untuk biaya berobat, hanya mengandalkan gaji sang suami dan BPJS. Ismi ingin anaknya segera dioperasi. Anaknya juga sempat dirawat selama sebulan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ternyata, tak hanya jantung bocor dan gizi buruk, anaknya juga mengalami sembilan kelainan jantung lainnya.
"Setelah periksa lengkap kemarin, ternyata ada sembilan kelainan lainnya. Saya nggak hafal apa aja. Katanya operasi dilakukan nanti setelah 2 tahun gitu. Kalau biaya operasi, kemarin pas ngobrol-ngobrol dengan orang tua penderita jatung bocor yang lain, perkiraan habis Rp 250 juta dan yang tercover (BPJS) Rp 200 saja," jelasnya.
Terpisah, Camat Mojosongo Tusih Priyanta mengamini belum ada bantuan untuk bayi penderita jantung bocor tersebut. Dia mengaku belum ada laporan terkait bayi tersebut. Selanjutnya, pihak kecamatan akan meminta desa dan menggandeng relawan untuk membantu bayi tersebut.
"Belum ada laporan masuk. Selanjutnya akan kita edukasi masyarakat sekitar untuk ikut membantu. Lalu kita juga akan koordinasi dengan perangkat desa setempat. Terkait kebutuhannya apa saja akab kita bantu. Termasuk kebutuhan operasional untuk periksa dan alat-alat akan kita fasilitasi," terang camat. (rgl/ria) Editor : Syahaamah Fikria