Ditemui di rumahnya di Butuh, Mojosongo, pasangan Angga Pranama Putra, 27, dan Erlina Fatmawati, 28, menceritakan awal mula diketahuinya penyakit yang diderita buah hati mereka itu.
"Awalnya usia tiga hari ketika dimandikan sekitar kaki, tangan, telinga serta mulut itu membiru. Sebenarnya kita sudah merasa kok ndak sehat. Sampai pada saat akikah, bibirnya menghitam. Langsung kami periksakan," ungkap sang ayah, Angga di rumahnya, Selasa (21/9).
Saat diperiksa oleh dokter di daerah Boyolali, Atta diminta untuk dirujuk ke rumah sakit. Bayi Atta pun dibawa ke RSUD dr Moewardi Solo. Dari situ diketahui bahwa Atta menderita tetralogi fallot (TOF) atau empat cacat jantung saat lahir, yang merupakan salah satu penyakit langka di Indonesia.
"Ketika diperiksa pada Agustus lalu, kebocoran jantung awal 0,5 cm, sekarang sudah 0,6 cm. Karena sakit dia sering rewel dan susah tidur. Kalau sudah menangis, mulutnya langsung membiru," terangnya.
Saat ini, Angga yang merupakan pegawai pabrik hanya mengandalkan BPJS untuk membiayai sang anak. Apalagi dokter meminta agar operasi dilakukan di Jakarta. Biaya operasi yang dibutuhkan sekitar Rp 300 juta. Sementara BPJS hanya bisa mengkaver setengahnya.
"Untung, anak saya kuat minum ASI-nya. Dia juga anak yang lincah. Namun, berat badannya sudah mulai turun. Kemarin 9 kilogram, turun jadi 8 kg. Saya harap Atta bisa segera operasi dan tumbuh normal seperti anak lainnya," tutur Angga.
Terpisah, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ariyanto mengatakan, pendataan bagi anak-anak yang mengalami penyakit akut tetap dilakukan melalui desa. Begitu ada temuan anak yang sakit, data tersebut akan diteruskan ke Dinkes Boyolali. Selanjutnya, pendampingan kesehatan akan dilakukan oleh dinkes melalui puskesmas setempat.
“Nanti akan dipastikan masalahnya. Apakah butuh perawatan lebih atau dari biaya tidak ada. Maka akan kita fasilitasi. Termasuk kebutuhan pelayanan kesehatan. Misalnya ketika kurang dana, kita upayakan dimasukkan ke PBI ataupun BPJS agar terfasilitasi untuk mengkaver biaya pengobatan. Dan itu juga tergantung kondisi pasien," terang Ariyanto.
Sebelumnya, kasus balita yang menderita jantung bocor juga dialami Clarissa Arsya Nurvia. Bayi 1,5, tahun asal Dusun Randurejo RT 01, RW 03, Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo. Clarissa juga kesulitan mengkaver biaya pengobatan. Bahkan saat ini, dia juga menderita gizi buruk. (rgl/ria)
Editor : Syahaamah Fikria