Para siswa, guru, beserta sejumlah aktivis dari Pegiat Lingkungan Pengging, Pekarya Sungai BBWS Bengawan Solo, ini terjun langsung mengambil sampah yang ada di sungai tersebut.
Dalam aksinya, mereka juga melakukan sosialisasi kepada warga dan pengunjung warung makan di sekitar kawasan Sungai Guyangan agar tidak membuang sampah ke sungai.
Pegiat lingkungan Pengging, Totok Sudaryanto mengatakan aksi ini menjadi langkah untuk memantik semangat masyarakat. Dia mendukung kegiatan positif yang melibatkan para siswa SD ini. Untuk menjadi langkah mengedukasi dan menanamkan budaya peduli lingkungan sungai.
"Kalau sungai yang bersih, tak hanya enak dilihat, tapi juga nyaman untuk lingkungan sekitar. Namun lebih dari itu, juga menghindarkan dari bahaya banjir. Sebab aliran sungai lancar dan tak tersumbat tumpukan sampah," terangnya pada Jumat (24/9).
Siswa dan masyarakat juga memungut sampah-sampah plastik yang menyangkut di sekitar sungai. Para peserta juga guyup rukun dengan mengumpulkan sampah menjadi satu. Dari kegiatan tersebut, sekitar 100 kilogram sampah plastik berhasil dibersihkan.
"Selanjutnya, sampah ini diangkut untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) di Winong, Kecamatan Boyolali Kota. Saya harap setelah ini kesadaran masyarakat tumbuh untuk tidak membuang sampah ke sungai," terangnya.
Tak hanya itu, WCD juga diperingati di seluruh dinas dan sekolah di Boyolali. Termasuk di SDN 9 Boyolali, Boyolali Kota. Para guru dan siswa terlihat gotong royong membersihkan lingkungan sekolah. Tak hanya itu, sekolah juga memilih, memilah dan mengolah sampah atau ecobrik.
"Kami lakukan pengolahan sampah plastik menjadi berbagai macam hiasan dan kerajinan. Seperti spotfoto, papan nama, pagar tanaman dan lainnya," ungkap Kepala SDN 9 Boyolali, Ngatmi. (rgl/dam) Editor : Damianus Bram