Pengakuan tersebut keluar dari mulut Sumarti, 85, adik ketujuh Suali. Sumarti yang rambutnya sudah memutih ini mulai bercerita sosok sang kakak. Dibantu sang anak, Andang Prihasanto, dibawanya pigura ukuran 30x40 cemtimeter (cm). Perempuan yang akrab disapa Marti ini mulai menunjuk satu persatu nama kakaknya, termasuk Suali yang tersenyum menghadap kamera dengan setelan jas necis di sisi kiri.
"Kangmas (Suali Dwijo S) itu orangnya baik. Dia itu guru dan pernah mengajar di Pati. Kalaupun salah, saya menyayangkan kenapa sekolahnya dibakar," ungkap Sumarti saat ditemui di rumahnya (29/9).
Keluarga Suali memang dikenal sebagai keluarga guru. Mulai dari sang ayahnya, Kartorejo yang menurun pada semua anaknya. Bahkan rumah gebyok yang dulu terletak di sisi belakang rumah juga digunakan sebagai sekolah rakyat (SR). Perlengkapan sekolah seperti meja dan kursi juga disediakan. Keluarga inipun, ikut mengajar sebagai guru.
Keponakan Suali, Andang, mengingat sosok pamannya ini sebagai penyayang keluarga. Bahkan namanya merupakan pemberian dari sang paman yang berarti obor. Dia mengamini, pamannya dulu memang berkecimpung di PKI. Dari partai itulah, Suali bisa masuk menjadi anggota DPRD dan menjabat sebagai Bupati Boyolali.
"Pakde memang aktif di partai (PKI). Saya tidak menutup-nutupi karena memang begitu adanya," ungkap Andang tanpa ragu.
Masa kecilnya memang sudah akrab dengan Suali. Bahkan teman-teman Suali kerap berkunjung dan dekat dengan keluarga. "Pakde ini memang suka baca, referensi bahkan bukunya masih ada yang tersisa. Bukunya tebal-tebal tapi hanya buku pelajaran umum," ungkap pensiunan guru ini.
Tak ada yang mengira, Suali Dwijo S dieksekusi tanpa pengadilan. Keluarga baru dikabari ketika eksekusi sudah dilakukan. Bahkan makam mantan bupati ini tidak diketahui sampai sekarang. Hanya rumor-rumor saja yang tersebar tanpa diketahui kebenarannya.
Kabar meninggalnya Suali lantas dibarengi dengan pembakaran SR yang terletak di belakang rumah. Meja, kursi, buku dan bangunan ludes dibakar massa. Ancaman dan intimidasi kala itu, tak lepas dari keluarga besar Suali. Bahkan, kakak iparnya alias ayah Andang turut dieksekusi mati di Klaten.
"Hingga pada 1976, semua kakak dan adik Pakde Ali (Suali) dipecat sebagai pegawai. Termasuk adik perempuannya di Rembang. Saya-pun, tak lepas dari intimidasi mulai dari sekolah sampai saya menjadi guru," terangnya.
Andang tak menaruh dendam apalagi kesal. Dia hanya berpegang untuk menerima keadaan. Hanya saja, dia menyesali eksekusi mati terhadap paman dan ayahnya, tanpa proses pengadilan. Kejadian tersebut menyisakan trauma tersendiri bagi keluarga. Termasuk bagi istri dan enam anak Suali yang kini tinggal di Jogjakarta.
"Pakde dengan keluarga, teman dan lingkungannya itu bagus. Pakde hanya korban politik dari pemilik kepentingan. Seharusnya kalau ada salah ya ada pengadilannya. Karena pakde dan ayah gak pernah diadili. Dan kalaupun pakde salah, jangan sekolah juga ikut dibakar," ujarnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram