Untuk itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mengantisipasi dengan menyediakan time table tactical floor game (TFG) atau latihan penanggulangan longsor di aula Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, kemarin (9/11).
Rangkaian kesiapsiagaan bencana metereologi Boyolali ini melibatkan berbagai stakeholder. Kegiatan TFG ini menampilkan dua peta besar dengan berbagai miniatur rumah dan kendaraan siap siaga masing-masing stakeholder. Tak hanya melibatkan TNI/Polri, juga melibatkan coorporate sicoal responsibility (CSR).
Kabid Pencegahan dan Kesiapsigaan Bencana BPBD Boyolali Suripto menerangkan, kegiatan TFG ini berfokus pada potensi longsor di Gagan, Kendel, Kemusu. Pemilihan Desa Kendel karena tanah berupa lempung putih yang rawan terjadi erosi. Ketika tanah lempung putih terkena air hujan, akan langsung merayap dan terjadi pergeseran tanah.
”Sudah ada kejadian jembatan penghubung desa putus karena tanah bergerak. Selain itu, ada satu rumah di sekitar jembatan ikut amblas. Maka kami sosialisasi pada masyarakat untuk waspada karena ada sekitar 20 KK atau sekitar 200 jiwa yang tinggal di bantaran kali tersebut. Padahal rawan terjadi tanah gerak,” ungkapnya ditemui di lokasi.
Upaya penanggulangan dilakukan dengan pemasangan EWS sebulan lalu. Diharapkan tidak terjadi bencana yang mengakibatkan korban jiwa. Sedangkan masyarakat disiapkan untuk kesiagaan bencana. Pihaknya juga membuat jalur-jalur darurat serta lokasi titik kumpul. Ketika terjadi tanah gerak, maka masyarakat diminta untuk gotong royong dan mampu menangani potensi bencana yang ada.
Kasi Kesiapsiagaan BPBD Boyolali, Eko Suharsono menambahkan, ada tiga hal yang disiapkan dalam kegiatan ini. Yakni sosialisasi terkait potensi rawan bencana tanah longsor Dukuh Gagan, Desa Kendel, Kemusu. Dilanjutkan TFG untuk sinkronisasi tupoksi antar stakeholder guna mengefisiensikan potensi sumber daya yang ada.
”Jika ada bencana sudah siap apa yang harus dilakukan, apa yang disiapkan, kapan dan bagaimana penanganannya. Kegiatan ini juga dilanjutkan dengan apel kesiapsiagaan bencana dan gelar simulasi kesiapan pasukan di lapangan. Yakni dengan simulasi ada korban dan tim K9 untuk pencarian sampai kesiapan pengungsian,” terangnya.
Kasiops Rem/074 Warastratama, Mayor Inf Ronaldo Konstantin mengatakan, kegiatan TFG dilakukan untuk menyelaraskan dan mempertegas tupoksi masing-masing stake holder. Sehingga penanggulangan bencana alam bisa lebih efisien karena dilakukan sesuai tugasnya.
”Penanganan longsor, atau tanah gerak langsung harus memperhatikan medan dan potensi korban. Maka ketika ada tanah gerak, langsung dipasang police line, tunggu sampai tim K9 tiba untuk memastikan ada korban tertimbun tidak. Karena tiap longsor itu beda penanganannya,” jelasnya.
Hal tersebut juga mendapat tanggapan baik oleh Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kecamatan Selo Boyolali Mujiyanto. Koordinasi ini penting dilakukan untuk pemetaan daerah-daerah berpotensi bencana. Apalagi, dirinya menjadi garda terdepan saat bencana di daerahnya.
”Simulator ini akan memberikan gambaran penanganannya seperti apa. Karena daerah lereng Merapi Merbabu, seperti Cepogo, Selo, Gladagsari dan lainnya juga memiliki potensi tanah gerak tinggi juga. Apakah longsor itu di sepadan sungai atau dekat pemukiman. Selain itu juga perlu ketangguhan masyarakat. Apalagi banyak komunitas relawan. Tinggal memberikan arahan untuk peningkatan kapasitas,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram