Kepala SMAN 3 Boyolali Bambang Prihantoro mengatakan, masih ada lima dari 968 siswanya yang belum mendapatkan izin orang tua untuk mengikuti PTM terbatas.
”Ada siswa yang satu keluarga terpapar lalu masih mengalami long Covid-19. Ada pula yang satu keluarga terpapar dan anak tersebut kehilangan salah satu anggota keluarga. Jadi mereka masih trauma untuk keluar rumah,” jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (28/11).
Dia menjelaskan, siswa yang trauma kesulitan beradaptasi ke luar rumah. Termasuk ke sekolah. Bambang mengamini tidak bisa memaksakan siswa mengikuti PTM terbatas. Dia memilih memfasilitasi prmbelajaran daring dan home visit.
”Mereka rata-rata masih bergejala, ada yang long Covid-19. Rata-rata terkena saat puncak gelombang kedua Juli lalu. Sehingga kami tetap fasilitasi dan dampingi siswa. Justru ini menjadi kewaspadaan bagi sekolah. Jangan sampai ada klaster baru di sekolah. Karena ketika ada paparan dampaknya panjang, bisa mulai lagi dari awal,” imbuhnya.
Pendampingan psikologi pada siswa juga dilakukan melalui guru bimbingan konseling dan wali kelas. Hal itu untuk memotivasi siswa agar secara psikis mereka bisa pulih dan tetap bisa mengikuti aktivitas seperti siswa lainnya. Diharapkan tidak ada ketertinggalan pembelajaran. Saat ini, kondisi kelima siswa tersebut mulai membaik.
”Mereka tetap mengikuti pembelajaran dengan baik. Tidak ada yang telat mengumpulkan tugas dan tetap aktif di kelas daring,” bebernya.
Sementara itu, Pengawas Sekolah Cabang V Disdikbud Jateng, Harminingsih mengatakan, seluruh SMAN, SMKN dan SLBN di Boyolali, Klaten, dan Salatiga telah menggelar PTM terbatas. Sejauh ini, PTM berjalan lancar dan aman. Tidak ditemukan potensi paparan di sekolah.
”Alhamdulillaah aman (PTM terbatas,red). Untuk di Boyolali ada 27 SMA negeri dan swasta, serta 7 SMALB yang telah menggelar PTM. Sedangkan untuk jenjang SMK ada 16 SMKN dan 13 SMK swasta yang sudah melakukan pembelajaran di sekolah,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram