Transaksi nontunai dikembangkan pada tiap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Desa Tawangsari. Total 1.400 UMKM telah didaftarkan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) Code. Pengembangan transaksi cahsless ini, mendorong pelaku UMKM supaya melek teknologi dan informasi (IT).
Kepala Desa (Kades) Tawangsari Yayuk Tutiek Supriyanti mengatakan, pengembangan ini menggandeng 17 BUMN. Melalui pelatihan digital bagi UMKM di desanya. Mulai dari pengenalan pasar digital, digital marketing, hingga branding wisata desa. Menurutnya, pengembangan desa digital bagi pelaku UMKM ini sudah dilakukan sejak awal pandemi.
Awalnya, transaksi warga dilakukan melalui grup WhatsApp (WA) desa. Berbagai macam produk UMKM seperti mi, dawet, karak tanpa borak, batik difabel, keripik, dan lainnya dipasarkan secara daring. Pembeli hanya berada di lingkup desa dengan sistem barter barang atau membeli dengan uang. Lambat laun, pasar meluas seiring dengan pemasaran daring.
“Awalnya jualan pisang atau buah lainnya, ditawarkan ke grup WA. Lalu pembeli merespons dan mereka bertemu. Sistem jual beli lewat grup WA desa, perputaran uangnya mencapai Rp 10 juta-Rp 20 juta tiap harinya. Penjual pengantar barang ke pembeli dan membayarkan secara cash on delivery (COD),” ungkap Yayuk, kemarin (18/12).
Kini, Pemdes Tawangsari menggandeng Bank Indonesia (BI) untuk pengembangan layanan transaksi nontunai. Sudah berjalan sejak enam bulan terkahir. Dibantu BI, kemudian 1.400 pelaku UMKM dibuatkan QRIS Code. Transaksi dipusatkan di Camp Bell 2 Edupark, Desa Tawangsari.
Tak hanya BI, digitalisasi bagi UMKM ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Desa (Kemendes) dan BUMN klaster Danareksa. Selain itu, pengembangan UMKM juga akan dilakukan melalui bazar digital. Dalam upaya membiasakan transaksi nontunai.
“Bazar digital desa berlangsung selama 5 hari. Pesertanya sekitar 17 UMKM. Kegiatan jual beli menerapkan pembayaran nontunai dengan QRIS. Rencananya, bazar digital akan digelar dua pekan sekali,” imbuh Yayuk.
Sementara itu, Perwakilan Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo Bimala mengaku, QRIS memudahkan transaksi jual beli pelaku UMKM. Satu barcode QRIS bisa digunakan untuk berbagai macam dompet digital. Cukup sekali scan, pembeli tinggal memasukan nominal dan password akun. Maka otomatis uang akan terkirim.
“QRIS sebagai transaksi cashless memiliki banyak manfaat. Selain meminimalkan transaksi tunai yang berpotensi menularkan virus. Di Boyolali, ada peningkatan pembuatan QRIS. Saat ini tercatat ada 19 ribu UMKM sudah punya QRIS. Ada peningkatan 45 persen. Dan di Desa Tawangsari, ada 1.400 UMKM yang didaftarkan QRIS,” ujarnya.
Salah seorang pelaku UMKM di Desa Tawangsari Eva Indah mengaku sudah tiga bulan terakhir berjualan di Camp Bell 2 Edupark. Satu barcode QRIS ditempelkan pada sisi kanan tenda jualannya. Ini memudahkan pembeli untuk membayar.
“Saya jualan nasi pecel Kediri, es dawet, camilan pisang coklat, donat kentang, dan salad. Penggunaan QRIS sangat mudah. Uang langsung masuk rekening. Jadi tidak perlu ribet nyari uang kembalian. karena pembayaran langsung ditransfer ke rekening," bebernya. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram