Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Darmanto mengamini ada temuan kasus positif Covid-19 di lingkungan sekolah. Dia menjelaskan guru tersebut merupakan warga Klaten yang mengajar di Sawit. Dia memiliki anak yang tinggal di Jakarta dan pamit untuk menengok pada Sabtu (29/1) lalu.
Kemudian guru tersebut tiba di Boyolali pada Minggu (30/1) sore. Guru tersebut sempat mengajar pada Senin (31/2), Rabu (2/2) sedangkan pada Selasa (1/2) libur karena bertepatan dengan Hari Raya Imlek. Pada Kamis (3/2) guru tersebut juga berangkat mengajar. Namun dia mendapat kabar jika anaknya terkonfirmasi positif Covid-19.
”Jadi dia baru di sekokah sebentar, dikabari hal tersebut dan segera izin ke kepala sekolah untuk pulang awal. Izinnya juga cuma dipintu saja. Lalu swab test mandiri dan hasilnya positif. Saya minta agar kepala sekolah segera berkoordinasi dengan puskesmas dan satgas Covid-19. Lalu Jumat (4/2) dilakukan tracing. Ada 106 siswa dan guru yang masuk tracing,” terangnya saat ditemui di kantornya, Senin (7/2).
Sebanyak 106 siswa dan guru tersebut tidak diizinkan mengikuti PTM di sekolah. Mereka menjalani pembelajaran daring sejak Sabtu (5/2). Kemudian ada 10 guru yang masuk tracing kontak era dan tujuh di antaranya telah menjalani swab mandiri dan hasilnya negatif. Sedangkan siswa dan guru yang belum swab test menjalani tes kemarin.
Sedangkan 106 orang yang masuk tracing kontak erat harus menjalani isolasi mandiri sampai dua kali swab test. Atau sekitar 14 hari guna memastikan kondisi mereka aman. Sedangkan siswa dan guru lain yang tidak masuk dalam tracing kontak erat tetap menjalani PTM terbatas seperti biasa dengan protokol kesehatan (prokes) ketat.
Kepala Dinas Kesehatan Boyolali Puji Astuti mengatakan, swab test PCR dilakukan pada kontak erat dari guru yang terkonfirmasi positif Covid-19. Ada 97 siswa yang masuk tracing kontak erat. Siswa tersebut sempat diajar oleh guru yang terkonfirmasi positif Covid-19. Hasil swab test PCR baru keluar minggu ini.
”Kami melakukan swab test PCR dan hasilnya masih 4-5 hari lagi. Jadi kontak erat kami arahkan untuk isoman. Hasil tracing cukup banyak, karena guru tersebut sempat mengajar kelas IX dan VI pasca pulang dari Jakarta. Jadi guru tersebut ke Jakarta untuk menengok anaknya yang sakit,” terangnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram