Antrean di Simo mencapai ratusan orang setiap harinya. Mengingat jatah migor yang didapatkan toko modern tersebut cukup banyak. Sedangkan di Jelok, Cepogo, jatah penjualan migor subsidi hanya satu karton atau enam kemasan berisi dua literan.
Manajer salah satu toko modern di Desa Pelem, Simo Desi Ariyanto mengatakan, antrean minyak goreng subsidi ini telah terjadi sejak 1,5 bulan terakhir. Namun, karena jumlah migor subsidi yang didapat terbatas, maka penjualan dibatasi. Dalam sehari dia bisa menjual hingga 50 karton migor atau 600 kemasan ukuran satu liter.
”Tiap hari pembelian migor dibatasi karena stok juga terbatas. Kalau tidak dibatasi stok migor bisa habis dalam sehari. Sedangkan, saya harus mengantisipasi agar tiap hari bisa jual minyak,” jelasnya, Senin (7/3).
Untuk mengatasi antrean panjang, dia membuat dua sistem belanja. Pertama masyarakat bisa membeli migor tanpa syarat belanja asalkan mau mengantre secara tertib. Kloter pertama ini dibuka setiap hari. Sedangkan kloter kedua, dibuka siang hari bagi pembeli yang ogah mengantre. Namun, pembeli dikenakan syarat pembelian produk lain dengan minimal belanja Rp 25 ribu.
”Kami jual tetap sesuai stok yang ada. Pembeli juga kami batasi. Satu orang hanya bisa dapat satu liter. Karena pasokan dari distributor masih belum bisa memenuhi yang kita minta. Kadang datangnya tidak terjadwal. Kadang jika kita kebutuhannya satu karton, paling yang datang 50-80 persen. Ini untuk minyak kemasan premium,” terangnya.
Pembeli migor subsidi asal Simo, Sri Mulyati mengaku, harus mengantre selama tiga puluh menit tiap harinya. ”Saya beli minyak 1 liter karena jatahnya cuma itu. Dapat minyak goreng sangat susah 1 bulan terakhir. Apalagi buat saya yang jualan gorengan, setiap hari cari minyak harus begini. Harapannya harga minyak cepat cepat stabil seperti semula,” terangnya.
Kepala Disdagperin Boyolali Karsino mengatakan, penurunan harga minyak goreng tersebut terjadi sejak 19 Januari lalu. Di sisi lain, dia mengamini dropping migor subsidi belum merata. Karena baru menyasar toko-toko modern saja. Dia berharap pemerintah pusat memberikan jalan tengah bagi pedagang tradisional. Agar kebijakan yang dibuat juga baik bagi konsumen maupun pedagang kecil. Selain itu, masyarakat diminta tidak perlu panik.
”Realisasinya memang baru di toko modern. Karena sistemnya kan dapat subsidi dan baru bisa diklaimkan dengan struk (bukti jual beli,Red). Kalau di toko modern kan sudah berjalan. Tapi kalau pedagang tradisional ini yang susah. Dan ini tidak hanya di Boyolali, tapi seluruh pasar tradisional di Solo Raya bahkan Indonesia,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram