Salah seorang pedagang sapi asal Mojosongo, Wahid mengamini ada penurunan harga jual sapi. Untuk sapi bibit mencapai Rp 1 juta sampai Rp 1,2 juta. Padahal harga sapi bibit normalnya berkisar Rp 16 juta. Kini menjadi Rp 15 juta. Bahkan ada pula yang menawar lebih rendah.
”Kalau sapi lemon (Gemuk,red) siap potong masih stabil. Yang bibit itu turun. Jadi pembelinya juga berkurang. Mungkin karena petani belum panen, jadi nggak beli sapi. Bisa peternaknya juga gitu. Ini saja kadang lakunya cuma satu ekor, kadang juga tidak laku sama sekali. Karena memang pasarnya sepi,” jelasnya ditemui di lokasi, Kamis (17/3).
Senada diungkapkan Triyono, asal Susukan, Kabupaten Semarang. Dia membawa lima ekor sapi bibit jenis limosin untuk dijual. Namun, penurunan harga sapi mencapai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta, membuatnya mengelus dada. Meski tidak ada patokan harga, namun nilai tawar sapi bibit ini merosot sejak tiga bulan lalu.
”Pedet (Sapi anakan,Red) tiga usia tiga bulanan biasanya laku Rp 13 juta. Saat ini harganya tinggal Rp 12 juta. Itupun masih ditawar. Mungkin karena minat masyarakat memelihara sapi bibit berkurang jelang puasa,” katanya.
Kepala UPT Pasar Hewan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Boyolali Sapto Hadi Darmono mengamini ada penurunan potensi sapi yang masuk. Penurunan ini terjadi sejak Januari lalu. Berimbas pada penurunan transaksi jual beli sapi sebesar 15 persen. Hal tersebut ditengarai karena pembatasan Covid-19 dan perdagangan antarprovinsi.
”Dulu potensi sapi masuk ke pasar berkisar 1.100 - 1.200 ekor. Sekarang turun dan berkisar 800-900 ekor saja. Hal tersebut juga berimbas ke harga ternak yang ikut turun,” jelasnya.
Selain faktor pembatasan, turunnya pembeli ternak juga ditengarai kondisi ekonomi masyarakat. Biasanya mendekati puasa dan hari raya Idhul Adha, penjualan sapi potong akan meningkat. Namun, kali ini justru ada penurunan. Sedangkan penjualan sapi berkisar 700 ekor. Seperti pada pasaran minggu lalu, sapi yang terjual mencapai 725 ekor.
”Alhamdulillah untuk pasar sini aman dari antraks. Pedagang dari Gunung Kidul juga tidak ada. Karena biasanya cek kesehatan sapi dulu di Prambanan, Klaten sebelum masuk Boyolali,” jelasnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram