Tradisi sadranan ini juga diisi dengan doa bersama dan tausiah. Tepat saat pemuka agama menyayikan salawatan, ratusan masyarakat tumpah ruah. Tak lama berselang, penutup tenongan pun dibuka dan langsung disambut masyarakat. Anak-anak membawa plastik terlihat antusias berebut memasukan makanan kesukaan mereka. Adapula makanan khas lokal yang disajikan adalah cucur, sagon, emping mlinjo serta buah-buahan.
"Tradisi sadranan ini sudah turun temurun yang jatuh pada bulan Ruwah, atau bulan arwah atau bulan Sya'ban. Tapi saat ini kan harus diatur, tidak semeriah dulu. Tradisi ini sudah ada dari zaman Mbah Bonggol Jati atau Syekh Maulana Ibrahim, penyebar agama Islam di daerah sini yang berasal dari Demak. Mungkin sudah 450-an tahun digelar," tutur sesepuh desa setempat, K.H. Maskuri saat ditemui sesuai acara.
Salah satu warga Dusun Tunggulsari, Desa Sukabumi, Cepogo, Nasfuri merasa senang. Lantaran sudah dua tahun tradisi sadranan tidak bisa digelar. Baru tahun ini, tradisi tahunan ini bisa diadakan lagi. Dia pun tetap membuka pintu rumah alias open house. Karena banyak saudara yang ingin mampir bersilaturami. Meski suasana sadranan tahun ini terasa lebih lengang.
"Karena pandemi, tradisi ini sempat berhenti dua tahun (2020-2021). Mitosnya, kalau makanan yang dibawa ke makam habis, tamunya nanti banyak. Artinya banyak rezeki yang akan didapat. Namun, tahun ini digelar terbatas. Kalau dulu jalan depan rumah itu gak bisa dibiyak (diurai,red)," terangnya. (rgl/dam) Editor : Damianus Bram