Makam Ki Ageng Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging II, biasanya ramai dikunjungi peziarah tiap Jumat Pahing (penanggalan Jawa). Pengunjung berasal dari berbagai daerah, dengan latar belakang berbeda. Di antaranya dari Jakarta, Semarang, bahkan luar Jawa.
Latar belakang mereka cukup beragam, mulai dari para kyai, pejabat negara, pegawai negeri sipil (PNS), hingga masyarakat umum lainnya. “Biasanya peziarah datang ke sini dengan maksud dan tujuan tertentu. Ada yang memohon kepintaran, kederajatan, hingga kesuksesan,” ungkap juru kunci makam Wiryo Yoto, 74.
Wiryo menambahkan, kompleks makam Ki Ageng Kebo Kenanga terdiri dari beberapa bagian. Setelah memasuki gerbang, mata peziarah akan disuguhi deretan makam para penggawa Ki Ageng Kebo Kenanga. Sedangkan makam Ki Ageng Kebo Kenanga terletak di dalam bangunan pintu kedua.
“Biasanya ramai dikunjungi tiap sore hingga malam. Khususnya tiap Jumat Pahing pasti membeludak. Karena memperingati hari meninggalnya Ki Ageng Kebo Kenanga,” imbuh Wiryo.
Tercatat jumlah peziarah yang datang mencapai ratusan orang. Karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, protokol kesehatan (prokes) ketat diterapkan. Mulai dari wajib bermasker, mencuci tangan dengan sabun, hingga menjaga jarak.
Bahkan, pengelola makam juga memberlakukan aturan khusus terkait durasi berziarah. Per sesi dibatasi maksimal 15 menit. “Apalagi sebelum masuk bulan Ramadan kemarin. Pengunjungnya ramai sekali. Kami harus membatasi supaya tidak berkerumun,” ujar Wiryo.
Peziarah yang hajatnya terkabul setelah berdoa di makam Ki Ageng Kebo Kenanga, biasanya kembali lagi untuk tasyakuran. Sebagian mendonasikan rezekinya untuk pembangunan dan perawatan makam.
“Datang lagi untuk bancakan (syukuran). Sebelum datang biasanya menghubungi saya untuk dipersiapkan ubo rampe-nya. Pesan saya, datang dengan niat yang baik. Jangan sampai melakukan maksiat, karena tempat ini suci dan sakral,” pesannya. (mg4/mg7/fer) Editor : Damianus Bram