Koordinator Pengelola Pasar Sayur Cepogo Amri mengatakan, harga sayur mulai naik sejak awal Ramadan. Kenaikan harga sayur hampir merata.
”Karena kebutuhan meningkat, semua harga sayur naik. Awal puasa biasanya masyarakat baru senang-senangnya masak sendiri. Tapi juga tergantung stok barang. Kalau sekarang naiknya dari Rp 3 ribu, ada yang lebih. Jadi biasanya harga sayur naik sampai tanggal 10. Abis itu nanti turun. Lalu tinggi lagi hari ke 25 sebelum Lebaran,” jelasnya ditemui, Selasa (5/4).
Amri menjelaskan, hampir semua komoditi sayur naik. Paling mahal brokoli naik dari Rp 8 ribu menjadi Rp 15 ribu per kilogram dan selada Rp 20 ribu per kilogram. Wortel naik dari Rp 2.000 per kilogram menjadi Rp 4.000 per kilogram. Kemudian, kubis naik dari Rp 2.000 menjadi Rp 4.000 ribu per kilogram, sawi bakso naik Rp 4.000 ribu per ikat menjadi Rp 7.000 ribu per ikat.
Kemudian seledri dari Rp 5.000 jadi Rp 15 ribu per kilogram, labu siam Rp 3,5-5 ribu per satu karung naik menjadi Rp 6.000. Boncis juga naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Harga tomat juga membaik dari Rp 2 ribu per kilogram menjadi Rp 5.000 per kilogram serta sawi slobor dari Rp 1.500 menjadi Rp 5.000 per kilogram.
”Kalau harga sayur naik begini, petaninya juga senang. Karena kemarin sempat harga kubis anjlok Rp 1.000 per kilogram. Akhirnya pada nggak mau jual dan dibuat pakan ternak," katanya.
Pasar sayur Cepogo memang menjadi salah satu pasar rujukan. Penjual sayur juga berasal dari berbagai daerah. Mulai dari Selo, Boyolali; Bandungan, Kabupaten Semarang; Dieng, Wonosobo, Muntilan hingga Magelang. Rata-rata pembeli merupakan makelar sayur yang mengirim menjual kembali sayur ke daerah Jawa Timur hingga luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatera.
Salah seorang pedagang sayur asal Selo, Pami mengamini kenaikan harga sayur sudah dirasakan sejak awal puasa. Dia mengambil sayur mayur dari petani Selo hingga Magelang.
”Kalau kentang saya ambil dari Magelang. Naik harganya dari Rp 10 ribu jadi Rp 11,5 ribu per kilogram. Sawi sendok atau pakcoy juga mahal, naik Rp 5 ribu menjadi Rp 7 ribu per kilogram. Padahal biasanya cuma laku Rp 2 ribu/kilogram. Saya biasa ambil dari petani Selo, lalu jual lagi ke bakul yang ambil,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram