Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Dilema Pelajar Bermotor, DPRD Boyolali Pelototi Tingginya Angka Kecelakaan

Damianus Bram • Senin, 11 April 2022 | 15:45 WIB
Pelajar berkendara terjaring operasi lalin. (RADAR SOLO PHOTO)
Pelajar berkendara terjaring operasi lalin. (RADAR SOLO PHOTO)
BOYOLALI – Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar mendapat sorotan kalangan DPRD Boyolali. Mayoritas karena pelajar dibebaskan naik kendaraan bermotor saat berangkat sekolah. Padahal, mereka belum memiliki surat izin mengemudi (SIM), maupun pembekalan safety riding.

Sekretaris Fraksi Karya Bangsa DPRD Boyolali Agus Ali Rosidi menilai, pelajar belum memahami etika berkendara di jalan raya. Bukti terbaru, kasus meninggalnya dua pelajar di jalur lingkar selatan, akhir Maret lalu. Mereka ditabrak bus saat berboncengan, hendak menyeberang jalan.

“Kadang mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Memang ini multiefek. Karena sekarang ini, kendaraan umum langka. Akhirnya anak sekolah banyak yang naik sepeda motor,” ungkap Agus, Minggu (10/4).

Menurut Agus, orang tua tidak bisa disalahkan ketika mempercayai anaknya berangkat sekolah naik sepeda motor. Karena fasilitas kendaraan umum di Kota Susu perlahan tenggelam. Kalaupun ada, belum menyentuh seluruh wilayah. Selain itu, orang tua tersita waktunya dalam bekerja mencukupi kebutuhan keluarga.

“Maka perlu upaya preventif. Semisal pakai helm. Termasuk pihak sekolah, juga ikut memberikan pengarahan,” bebernya.

Legislatif juga meminta jajaran Satlantas Polres Boyolali untuk proaktif dan getol menyosialisasikan keselamatan berkendara kepada pelajar. Terutama tertib menggunakan helm. “Harus dicari jalan tengah dari pihak sekolah, kepolisian, dan masyarakat supaya ada pemahaman bersama. Intinya bersama-sama menyelamatkan. Karena anak-anak masih labil,” imbuhnya.

Legislatif juga menyoroti potensi kecelakaan selama cuti bersama Lebaran, 29 April hingga 6 Mei. Karena mobilitas masyarakat terus bertambah. Maka, perlu pendampingan dan pengarahan pada anak-anak remaja. “Jangan sampai angka kecelakaan meningkat, apalagi rata-rata karena human error,” ujarnya.

Sementara itu data dari Polres Boyolali, terjadi 790 kejadian laka lantas pada 2021. Meningkat 101 persen dibandingkan 2020 yang hanya 393 kasus. Artinya, ada kenaikan 397 kasus.

Selain itu, tingkat fatalitas laka lantas juga meningkat. Dari 790 kasus pada 2021, 73 orang meninggal dunia, 12 orang luka berat, dan 1.055 orang luka ringan. Korban meninggal naik 55,3 persen atau bertambah 26 orang dibanding 2020.

Sedangkan pada 2020, dari 393 kasus, 47 orang meninggal dunia, seorang luka berat, dan 500 orang luka ringan. Peningkatan kasus laka dan korban ini, rata-rata terjadi saat jam sibuk. Yakni pada pagi hari saat berangkat kerja atau sekolah, serta sore hari sepulang kerja. Korban meninggal dunia dan luka berat, didominasi usia produksi. Rata-rata menimpa usia produktif mulai dari 16-48 tahun.

Sebelumnya, Kasatlantas Polres Boyolali AKP Yuli Anggraeni membeberkan, kasus kecelakaan didominasi pengendara sepeda motor. Kebanyakan terjadi di ruas Jalan Solo-Semarang, serta jalan-jalan kecamatan. Angka kecelakaan tertinggi terjadi di Wonosegoro dan Karanggede. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#satlantas polres boyolali #Pelajar Bermotor #angka kecelakaan #dprd boyolali #Angka Kecelakaan Pelajar Bermotor