Pantauan Jawa Pos Radar Solo di Kantor Kelurahan Banaran, Boyolali Kota, antrean warga yang ingin mengambil BLT mengular. Warga dengan tertib mengambil nomor antrean dan membawa dokumen syarat pengambilan. Selain itu, desa dan puskesmas setempat juga membuka posko vaksinasi. Masyarakat yang mengambil BLT dan dalam kondisi sehat bisa mengikuti vaksin booster ini.
Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial (Dinsos) Boyolali Sri Seti Handayani mengatakan, penyaluran BLT migor dan BPNT mulai dilakukan Rabu (13/4) bagi warga Boyolali Kota hingga Senin (18/4) mendatang. Sedangkan warga di kecamatan lain akan disalurkan bertahap hingga Senin mendatang.
”Hari ini mulai disalurkan untuk Kecamatan Boyolali Kota. Penyaluran oleh Kantor Pos dengan penyalurannya bertempat di balai desa/kelurahan masing-masing," jelasnya, Rabu (13/4).
Terkait jumlah penerima, Seti mengacu pada data kemensos. Boyolali menerima bantuan sebanyak 64.163 KPM. Sementara ini, data tersebut tidak berubah alias belum ada tambahan penerima. Seti memastikan seluruh kecamatan kebagian kucuran BLT migor dan BPNT.
”Alokasi 64.163 itu menyasar semua kecamatan di Boyolali. Untuk jadwal penyaluran sampai Senin mendatang,” katanya.
Camat Boyolali Kota Suwarno mengatakan, penyaluran BLT migor dan BPNT telah dilakukan sejak Selasa (12/4) dan diawali Kelurahan Siswodipuran. Kemudian dilanjutkan Desa Winong, Mudal, dan Kebonbimo serta Kelurahan Banaran dan Pulisen. Sedangkan dia desa lainnya, Desa Karanggeneng, Penggung dan Kiringan baru dibagikan Kamis (14/4).
Kecamatan Bòyolali Kota mendapat penyaluran BLT migor dan BPNT sebanyak 2.887 KPM. Terdiri dari Kelurahan/Desa Banaran sebanyak 300 KPM, Karanggeneng 502 KPM, Kebonbimo 128 KPM, Kiringan 299 KPM, Mudal 388 KPM,Penggung 386 KPM, Pulisen 264 KPM, Siswodipuran 227 KPM, Winong 393 KPM.
Sementara itu, salah seorang penerima BLT migor dan BPNT asal Karangduwet, Kelurahan Banaran Suparmi mengaku sangat terbantu. ”Bantuan ini meringankan sekali. Dapat Rp 500 ribu. Meski antrenya satu jam lebih, harus sabar. Karena sekarang berat banget mau beli minyak apalagi harganya berkali lipat yang dulunya cuma Rp 14 ribu. Di rumah juga seleranya goreng-goreng,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram