Penggunaan limbah tahu sebagai sumber energi alternatif mulai dirintis produsen tahu, Suwarno. Sejak 2013 silam, masyarakat mulai memanfaatkan kotoran sapi dan limbah produksi tahu. Warga Dusun Gilingan Lor, Desa Urutsewu, Kecamatan Ampel ini membuat tangki bawah tanah secara mandiri bermodal Rp 50 juta.
Kini, biogas miliknya mampu memasok energi untuk produksi tahu. Serta mengaliri gas hingga ke tujuh rumah. Bahkan menjadi sumber listrik yang mampu menggerakkan mesin pemotong besi 6 ribu watt.
Pembuatan biogas ini cukup mudah. Seluruh limbah akan ditampung dalam digester yang sudah didesain khusus. Tentu, limbah perlu dicampur air dengan perbandingan 1:1. Tujuannya, bakteri akan mengurai limbah ini.
”Nanti akan muncul gas yang terikat dalam ruang kedap udara. Gas ini yang disalurkan melalui paralon dan kompor gas. Sebagian juga ditampung di dalam ban untuk penerangan lampu petromak,” jelas Suwarno.
Awalnya, masyarakat di Desa Urutsewu, Ampel hanya manfaatkannya untuk kompor gas. Ide ini lantas dikembangkan. Sampah rumah tangga, limbah sapi maupun tahu menjadi energi utama untuk pemenuhan kebutuhan api di dapur warga.
Kini warga bisa mengakses gas setiap hari. Api dari saluran paralon berisi gas hasil limbah memberikan berkah bagi masyarakat.
Limbah hasil ekstraksi biogas akan disalurkan ke saluran pembuangan. Bentuknya berupa cairan yang bisa dimanfaatkan menjadi pupuk tanaman. Biogas ini juga dikembangkan sebagai sumber tenaga listrik. Warga berinovasi dengan memodifikasi genset yang awalnya berbahan bakar minyak.
Ide awal ini dipelopori oleh warga setempat, Haryanta. Berbekal informasi di internet, dia mulai mengutak-atik. Ternyata motor penggerak mesin itu cukup diganti pistonnya saja. Sistem pembakaran di ruang bakar mesin dimodifikasi untuk membakar bahan bakar biogas. Kemudian menghasilkan listrik dengan daya cukup besar. Bahkan bisa menggerakkan mesin potong besi berkekuatan 6 ribu watt.
”Listrik dari genset dengan bahan bakar biogas bisa untuk menyuplai daya pompa air pada Pamsimas. Jadi bisa gantian dengan listrik PLN. Karena kami masih menggunakan genset dari pabrikan. Sehingga jika dinyalakan terus menerus (genset, Red) khawatir akan terjadi kerusakan,” terangnya. (rgl/nik/ria)
Buah Sebuah Ketekunan
PENGEMBANGAN biogas di Desa Urutsewu, Ampel, Boyolali, ternyata perjalanannya cukup panjang. Ini catatan pengembangannya:
1990 Satu sumur digester.
2013-2016 Bertambah 15 unit bantuan biogas ternak dan 4 swadaya biogas tahu.
2017 Bertambah 5 unit biogas ternak.
2018 Bertambah 4 unit bantuan biogas ternak, 4 unit biogas ternak swadaya.
2019 Bertambah 10 unit biogas ternak, 1 unit biogas tahu swadaya dan 3 unit biogas portabel.
2022 Kini total ada 43 unit biogas dan 3 biogas portabel di Urutsewu.
Editor : Syahaamah Fikria