Kepala Desa Banyuanyar Komarudin mengatakan, kampung jahe menjadi salah satu unggulan destinasi wisata edukasi di desanya. Manajemen kampung jahe lantas difasilitasi dan bawahi langsung oleh BUMDes. Tujuannya, program jahe organik dan oveje tetap terjaga dan terus berjalan.
”Maka, kami kedepankan juga kampung UMKM. Kalau UMKM-nya jalan, maka wisata juga jalan. Sehingga perlu sinergitas ibu-ibu, karang taruna dan bapak-bapaknya dalam pengembangan desa wisata edukasi ini,” jelasnya belum lama ini.
Kampung jahe kini makin dikenal. Bahkan perguruan tinggi ikut serta melakukan pendampingan. Komarudin mengatakan, desa tak lantas lepas tangan. Desa ikut mengontrol perjalanan UMKM Dusun Jumbleng. Memastikan masyarakat terus mengembangkan produk oveje. Serta mampu dipasarkan dengan baik. Sehingga suntikan dana dari desa bisa dirasakan semua lapisan masyarakat.
Masyarakat digerakan secara mandiri. Mulai dari hulu ke hilir. Dari proses pembibitan, panen, pengolahan hingga pemasaran produk. BUMDes berperan untuk memberikan daya sanding dan branding. Produk olahan jahe akan menjadi salah satu buah tangan khas Desa Banyuarnyar. Menjadi pelengkap paket wisata wellnes tourism Banyuanyar.
”Kami bekerjasama dengan civitas akademika agar terjun membantu masyarakat. Dibina secara manajemen dan keilmuan agar bisa menghasilkan produk berkualitas dan optimal. Bagi saya, good agricultural practices dan good manufacturing practices,” bebernya.
Kini, upaya pemberdayaan desa mulai berbuah manis. Masyarakat secara mandiri mengembangkan produk olahan. Diharapkan, kampung jahe dan oveje tidak hanya meningkatkan perekonomian masyarakat. Namun, juga menjadi produk wisata yang menyehatkan dengan jahe organik.
”Target kami, one kampung one produk. Setiap dusun memilik produk unggulan masing-masing. Dengan begitu masyarakat semakin meningkat perekonomiannya, dan semakin berdaya saing,” tandasnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram