Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Prasasti Wonosegoro, Jejak Peradaban di Lereng Merapi-Merbabu

Damianus Bram • Kamis, 26 Mei 2022 | 13:30 WIB
BUKTI SEJARAH: Kusworo Rahardian menunjukkan Prasasti Wonosegoro bertuliskan huruf Jawa kuno di Cepogo, Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
BUKTI SEJARAH: Kusworo Rahardian menunjukkan Prasasti Wonosegoro bertuliskan huruf Jawa kuno di Cepogo, Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
BOYOLALI - Wilayah lereng Merapi-Merbabu sudah menyimpan kemajuan peradaban sejak zaman dulu. Salah satu buktinya soal keberadaan prasasti Wonosegoro di Cepogo.

Di pelataran Makam Dusun Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo kemarin tampak lebih ramai dari biasanya. Tua muda memenuhi tempat itu. Dua gunungan hasil bumi tampak tertata rapi. Lauk pauk, palawija, hingga ayam ingkung tertata rapi. Di depannya terdapat pemahat patung Dewi Tara alias dewi penolong. Disandingnya ada perempuan muda yang menuliskan Kidung Surajaya pada sumping atau pelepah bambu.

Sedangkan seorang pemuda dengan selendang putih tampak bermeditasi. Acara treatrikal tersebut menggambarkan peradaban masyarakat lereng timur Merapi -Merbabu. Acara kemudian berlanjut. Selangkah demi selangkah para rombongan menapaki undak-undakan tanah. Dipandu empat penari, langkah pasti pembawa sejaji bumi menuju atas makam. Begitu sampai, pembawa sesaji disambut kidung Ibu pertiwi.

Dilanjutkan menuju prasasti yang menjadi tanda peradabatan manusia di lereng timur Merapi. Prasasti Wonosegoro ini berusia 1.121 tahun. Terletak di tengah tegalan di pinggir jurang milik warga setempat, Sarwi. Batu prasasti ini tak pernah pindah ataupun dipindahkan. Ada empat baris tulisan aksara Jawa Kuno. Sayangnya, bait terakhir sudah tak terbaca. Terkikis oleh cuaca dan usia.

“Kami menggandeng mahasiswa arkeologi UGM untuk membantu alih aksara,” ujar Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahardian, kemarin.

Prasasti tersebut bertuliskan, swa sti śa ka wa rṣā tī ta 8 2 3 jye ṣṭa ma sa pa ñca mi śu kla ha wa so kā la ni ki pa ta pā n ri śa rū ṅga nā mā... Yang diterjemahkan "Selamat tahun Śaka yang telah lalu 823 pada bulan Jyesta tanggal 5 bagian bulan terang. Haryang (hari bersiklus 6), Wagai (hari bersiklus lima), Soma (hari bersiklus tujuh atau Senin), pada saat ini (terdapat) pertapaan di Śarūṅga (yang) hendaklah dinamai ...".

Photo
Photo
BUKTI SEJARAH: Prasasti Wonosegoro bertuliskan huruf Jawa kuno di Cepogo, Boyolali. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

"Berdasarkan penelitan tersebut juga telah dilakukan konversi penanggalan dari Saka ke Masehi. Sesuai penulisan tersebut disebut pada tanggal 25 bulan Mei tahun 901 masehi.  Jika ditarik ke tahun sekarang sudah 1.121 tahun silam. Berarti ini menunjukkan masyarakat lereng timur Merapi-Merbabu Boyolali sudah memiliki peradaban yang luhur yang sudah mengenal budaya menulis," ujarnya.

Menurut Kusworo, adanya prasasti tersebut menunjukkan tingginya peradaban manusia di daerah itu pada waktu itu. Pada 901 masyarakat sudah mengenal budaya tulis. Temuan ini juga didukung temuan ratusan jejak berupa objek tinggalan arkeologi. Baik berbentuk struktur, situs maupun benda lepas. Peninggalan tersebut tersebar secara merata di tiap Kecamatan di Boyolali.

Pendataan oleh BHS,  ada sebanyak 413 objek tinggalan arkeologi yang tersebar di 16 kecamatan. Berupa 73 situs, 396 benda, 14 bangunan dan 12 struktur. Prasasti Sarungga ini menjadi penanda peradaban tua di lereng timur Merapi. Temuan ini ternyata bersambut dengan isi Prasasti Pengging yang dikeluarkan Rakyan I Garung pada 741 Saka atau 21 Maret 819.

Sayangnya, prasasti ini tidak bisa dipakai acuan. Karena hanya menyisakan pecahan lempeng tembaga dan informasinya tidak lengkap. Kemudian adanya prasasti Wonosegoro yang merujuk pada 901 serta Prasasti lereng timur laut Merbabu. Tepatnya di Desa Ngadirojo, Gladaksari di ketinggian 2907 meter diatas permukaan laut (MDPl). Batu berangka tersebut merujuk 1559 Saka atau 1637.

Tak hanya itu, majunya peradaban di Boyolali juga tercatat dengan baik di sejumlah naskah kuno. Seperti Naskah Merapi -Merbabu (MM) pada abad 16-18 masehi. Diperkuat dengan naskah kisah perjalanan Pujangga Manik yang tertulis pada lontar. Pujanggan Sunda ini menuliskan peradaban di Gunung Damalung atau yang kini dikenal Gunung Merbabu. Penulisan naskah ini merujuk pada abad 14-15 Masehi.

"Kalau ditilik dari Prasasti Wonesegoro ke kisah perjalanan Bujanggamanik maka rentang waktunya 500 tahun.  Sebuah rentang peradaban kehidupan yang cukup lama," jelasnya.

Dengan adanya rangkaian kegiatan ruwat rawat ini diharapkan bisa menambah antusias masyarakat untuk ikut menguri-uri peninggalan.

"Kami berharap bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat luas akan kekayaan budaya lokal masyarakat lereng timur Merapi-Merbabu Boyolali yang selalu menjaga keselarasan hubungan antara manusia, alam, dan budayanya," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Darmanto mendukung penuh penggalian sejarah peradaban di lereng Merapi-Merbabu. Menurut dia, melalui acara ruwat rawat prasasti Sarungga ini membuat masyarakat semakin mengenal dan tertarik untuk turut merawat. Apalagi banyak budaya lokal lainnya seperti tari tradisional yang bisa diangkat.

"Kegiatan ruwat rawat ini baru pertama kali digelar di sini. Melalui kegiatan ini bisa membuat masyarakat agar ikut dalam merawat dan nguri budaya," katanya. (rgl/bun) Editor : Damianus Bram
#Boyolali Heritage Society #Peradaban di Lereng Merapi #disdikbud boyolali #Lereng Merapi-Merbabu #Prasasti Wonosegoro #Peradaban di Lereng Merbabu