Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pemkab Boyolali Gelar Pertunjukan Wayang Kulit, Hadirkan Tiga Dalang Cilik

Damianus Bram • Senin, 13 Juni 2022 | 04:33 WIB
NGURI-URI BUDAYA: Pergelaran wayang kulit menyambut Hari Jadi Kabupaten Boyolali, Sabtu (11/6). (ISTIMEWA)
NGURI-URI BUDAYA: Pergelaran wayang kulit menyambut Hari Jadi Kabupaten Boyolali, Sabtu (11/6). (ISTIMEWA)
BOYOLALI – Memperingati Hari Jadi Kabupaten Boyolali, pemkab menggelar pergelaran wayang kulit. Tak hanya menggandeng Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi), pergelaran ini juga dimeriahkan perform tiga dalang cilik asli Kota Susu. Yaitu Yesaya Abimanyu Pradipta (TK Imanuel Boyolali), Radite Hanung Putra Eris Sandi (SD Santo Fransiskus), dan Fathir Narendra Widhitama (SDN 5 Boyolali).

Wayang kulit digelar di Pendopo Ageng, Kompleks Kantor Setda Boyolali, Kamis-Sabtu (9-11/6). Menghadirkan dalang Ki Margono, dengan lakon Jimat Kalimosodo. Disusul pergelaran pada Sabtu malam, dimeriahkan tiga dalang cilik dengan lakon Wahyu Mangkutho Romo.

Hadir menyaksikan pergelaran wayang, Bupati Boyolali M. Said Hidayat dan jajarannya. Said juga sempat mengenalkan tiga dalang cilik yang manggung. Sekaligus mengetes kemahiran Yesaya Abimanyu, dengan menunjukkan salah satu tokoh wayang Bambang Sekutrem. “Weh benar ki (benar sekali),” puji Said sembari tersenyum.

Sebagai hadiah karena berhasil menjawab, wayang Bambang Sekutrem tersebut diberikan pada Yesaya. “Terima kasih kepada orangtua dalang cilik ini. Karena sudah melahirkan penerus-penerus budaya lokal,” imbuh Said.

Sementara itu, lakon Jimat Kalimosodo menceritakan asal usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Kisah raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara, yang menyerang kahyangan. Selama penyerangan, dia membawa dua pembantunya, yakni Sarotama dan Ardadedali. Mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara kemudian mengobrak-abrik tempat tinggal para dewa.

Batara Guru raja kahyangan yang tredesak, meminta bantuan Bambang Sakutrem dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Karena kesaktian Sekutrem, dia berhasil membunuh semua musuh para dewa yang menyerang kahyangan tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka.

Kalimantara berubah menjadi kitab Jamus Kalimasada. Sedangkan Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah. Sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.

Sakutrem lantas memungut keempat pusaka tersebut. Kemudian diwariskannya secara turun-temurun sampai ke cicitnya yang bernama Resi Wiyasa atau Abiyasa. Ketika kelima cucu Abiyasa, yaitu para Pandawa membangun kerajaan baru bernama Amarta. Pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#Persatuan Dalang Indonesia #Dalang Cilik #Hari Jadi Kabupaten Boyolali #wayang kulit #pepadi