Slamet sudah berjualan bakso sejak 1981 silam. Begitu lulus SMP, dia berjualan bakso malang keliling. Setiap sore dia akan mendorong gerobak dan menjajakan sejauh 10 kilometer. Dia pernah berjualan keliling di Purworejo, Boyolali dan Ponorogo. Selama menjadi tukang bakso keliling, dia mendapat upah dari bagi hasil.
"Dulu sistemnya bagi hasil. Saya hanya dapat 20 persen saja. Kalo sisa, ya dikembalikan ke juragan. Dari situ, saya belajar dari kahanan (Kehidupan). Belajar bikin bakso dan akhirnya bisa buka di kedai pertama di timur Pasar Boyolali Kota pada 17 Maret 1987," terangnya pada Jawa Pos Radar Solo, Senin (15/8).
Dari awal buka pertama ini, dia mendapat banyak masukan. Agar membuat bakso yang khas dengan cita rasa Boyolali. Uang tabungan selama berjualan bakso keliling diinvestasikan untuk warung bakso tersebut. Hingga akhirnya bisa berkembang dan membuka cabang 2 yang lebih besar.
Cita rasa bakso malang Pak Slamet ini tak pernah pudar. Pedas segarnya lada menambah nafsu makan. Selain kuah yang menggoda, pentol baksonya juga tak kalah legendaris. Ada empat pentol untuk satu porsi bakso. Terdiri dari dua bakso urat dan satu bakso halus. Lebih lengkap dengan topping pangsit isi daging.
"Makanya, untuk ulang tahun kami selalu mengundang panti asuhan dekat sini. Hari ini ada sekitar sembilan panti dari berbagai kecamatan. Bagi saya kebahagiaan kita itu juga kebahagiaan orang lain," ungkap pria kelahiran Malang, 1964 ini.
Slamet dan sang istri tak pernah canggung bergaul dengan siapa saja. Bahkan anak-anak panti juga mengenalnya. Apalagi, setiap peringatan ulang tahun kedai cabang 1 dan 2 selalu diundang. Ayah empat anak ini selalu mengajarkan untuk berbagi kebaikan dan senantiasa memberi.
Baginya, dengan melihat keceriaan anak-anak yatim dan piatu. Justru membuatnya senabg dan bahagia. Padahal bisnis baksonya sudah beberapa kali diterpa badai. Seperti saat Covid-19 pada 2020-2021. Penjualan menurun drastis hingga 70 persen. Sehingga untuk biaya operasional dan gaji 29 karyawannya. Dia terpaksa menjual tiga mobilnya.
"Pernah juga muncul berita bakso formalin. Itu juga langsung sepi. Tapi cepat membaik lagi. Wong yang dijual juga asli dan fresh. Tapi paling berat ya korona. Ekonomi 2 tahun tersendat. Sekarang dan mulai normal, giliran dihadang PMK dan bahan pokoknya yang mahal," katanya.(rgl/dam) Editor : Damianus Bram