Kepala BTNGMb Junita Parjanti menjelaskan, pemasangan rantai pembatas ini untuk melindungi batu peninggalan arkeologi dari tangan-tangan jahil. Mengingat letaknya di puncak Kenteng Songo. Sangat mudah ditemui oleh para pendaki yang melintas dari jalur pendakian Selo.
Rantai pembatas tersebut dipasang 10 Agustus lalu. Bertepatan dengan hari Konservasi Alam Nasional. Selain itu, juga dilakukan pembersihan jalur pendakian.
“Kami pasang rantai keliling, supaya tidak diinjak-injak oleh pendaki. Selain itu biar lebih terawat,” terang Junita, Minggu (21/8).
Sementara itu, Ketua Boyolali Heritage Society (BHS) Kusworo Rahadyan mengaku, zaman dulu Watu Kenteng sering digunakan untuk ritual. “Biasanya lumpang digunakan untuk menumbuk biji-bijian, hasil panen, atau jamu-jamuan. Tapi kalau merujuk beberapa prasati, ada salah satu perlengkapan yang disebut watu kulumpang. Biasa digunakan sebagai alat ritual tertentu,” urainya.
Kusworo mengaku tidak mengetahui kapan ditemukannya situs tersebut. Namun saat ini kondisinya masih cukup terawat. Dia juga mengapresiasi upaya perlindungan peninggalan arkeologi yang dilakukan BTNGMb. Tak
“Selain Watu Kenteng, ada peninggalan arkeologi lain yang lokasinya berdekatan. Di bagian atas ada struktur teras menyerupai punden berundak dan pecahan terakota kuno,. Namun masih perlu kajian lagi. Kemudian ada batu berangka tahun, struktur tangga, dan jaringan jalan kuno,” bebernya. (rgl/fer/dam) Editor : Damianus Bram