Salah satu produsen kue bolu di Mojosongo, Boyolali, Supriadi mengeluhkan mengeluhkan mahalnya harga telur ayam dan terigu. Dampak kenaikan harga kedua bahan pokok ini sudah dirasakan olehnya sejak sebulan terakhir. Kondisi ini membuat dia dan produsen lain dilematis.
"Kalau dinaikkan, nanti pasti pembeli komplain dan malah kabur. Jadi saya memilih pendapatan turun daripada kehilangan pembeli," terangnya, Selasa (23/8).
Sekali produksi, dia membutuhkan sedikitnya 15 kilogram telur ayam per hari. Padahal harga telur ayam tembus Rp 27 ribu per kilogram. Itupun, dia mendapat pasokan telur ayam langsung dari peternak. Dia menilai kenaikan harga telur ini tidak wajar. Sebab, biasanya harga telur berada di bawah Rp 20 ribu.
Tak hanya telur, dia juga dihadapkan harga terigu yang melonjak. Harga terigu saat ini mencapai Rp 20 ribu per kilogram. Karena tak bisa menaikan harga, dia mengalami penurunan pendapatan hingga 30 persen. Sebab, dia tidak bisa mengakali dengan mengurangi komposisi telur dan terigu.
"Kalau mau mengurangi komposisi telur dan terigu, malah nantinya berpengaruh pada rasa dan bentuk kue. Jadi pendapatan turun sampai 30 persen. Kalau produksi kue masih stabil cuma harga telur itu naiknya tinggi sekali," katanya.
Dia berharap, pemerintah segera kembali menstabilkan harga telur. Agar kerugian yang dialami pembuat kue tidak bertambah. Apalagi, kue bolu buatannya biasa dipesan untuk acara-acara hajatan dan lainnya. Jika harga telur dan terigu tak kunjung membaik. Dia khawatir kerugian produksi semakin besar.
Distributor tepung terigu di Toko Sumber Rejeki, Pasar Sunggingan, Boyolali Kota, Yuli mengamini kenaikan harga terigu terjadi sejak sebulan terakhir. Saat ini, harga tepung terigu tembus Rp 259 ribu per sak dari harga normal Rp 195 ribu per sak. Kenaikan berlangsung secara bertahap. Bahkan, beredar isu antar pedagang jika terigu akan naik hingga Rp 300 ribu per sak.
"Naik sudah sebulan ini, dan bertahap. Tapi harga ini sudah paling mahal. Ada isu bakal naik lagi, tapi ya belum ada. Meski penjualan masih normal, tapi banyak juga yang protes. Apalagi, di sini yang beli rata-rata UMKM makanan. Seperti kue bolu, gorengan, kerupuk, mie ayam dan lainnya," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Jubir Asosiasi Peternak Ayam Petelur Boyolali Tukinu. Dia mengatakan, kenaikan harga telur baru terjadi pada beberapa hari terakhir. Ada beberapa faktor yang memicu kenaikan harga telur aya. Salah satunya, info diadakan kembali program keluarga harapan (PKH). Sehingga calon penadah telur untuk PKH mulai menyetok telur.
"Biasanya bulan Sura (bulan penanggalan Jawa, Red) turun, karena tidak ada hajatan. Tapi ini kok malah naik. Ternyata ada info penadah buat PKH. Harga telur dari kandang Rp 26.600 per kilogram. Kami masih untung Rp 4,5 ribu per kilogram," ungkapnya.
Selain itu, populasi ayam petelur berkurang hingga 30-40 persen. Banyak peternak kecil yang sudah gulung tikar. Bahkan peternak besar juga mengurangi jumlah ternak ayamnya. Hal ini imbas dari anjloknya harga telur yang hanya Rp 15 ribu/ per kilogram pada tahun lalu. Banyak peternak yang tombok dan akhirnya gulung tikar. Berkurangnya jumlah peternak dan populasi ayam berimbas pada penurunan produksi telur.
Jika dulu perternakan ayam di daerah Winong, Boyolali Kota bisa menghasilkan 50 ton per hari. Kini hanya bisa memproduksi 35-40 ton per hari. Atau sekitar 7- 8 rit saja. Penurunan produksi telur juga terjun dan berkisar 60-70 persen. Sedangkan dia sendiri memiliki 5 ribu ekor ayam yang mampu memproduksi dua kuintal telur. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram