Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

10 Tahun Warga Dusun Gobumi Konflik dengan Kera Ekor Panjang

Damianus Bram • Rabu, 2 November 2022 | 14:40 WIB
PASRAH: Warga Dusun Gobumi, Mriyan, Tamansari, Boyolali memasangi jaring untuk mengantisipasi serangan kera ekor panjang. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
PASRAH: Warga Dusun Gobumi, Mriyan, Tamansari, Boyolali memasangi jaring untuk mengantisipasi serangan kera ekor panjang. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Selama 10 tahun terakhir warga Dusun Gobumi, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Boyolali, berkonflik dengan kera ekor panjang. Kera semakin berani masuk pekarangan rumah dan merusak tanaman warga. Situasi ini membuat warga tak bisa menanam sayur.

"Kami kan mayoritas bekerja di sektor pertanian. Sumber penghasilan, ya dari menanam. Tapi adanya kera ekor panjang, apapun mereka makan (termasuk hasil pertanian warga). Bahkan bunga mawar kalau tidak dijaga dan diberi jaring keliling, itu juga bisa habis (dimakan kera)," jelas salah seorang warga setempat, Widiyanto kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Dia menceritakan, ada kasus saat warga menanam jagung. Baru selesai menanam dan baru sampai rumah, ternyata ladang yang ditanami biji jagung sudah diobrak-abrik kera. Pihaknya juga sudah mencoba untuk mengantisipasi dengan mengusir kawanan kera, namun kurang mempan karena kera akan kembali lagi.

Warga hanya bisa menanam tembakau setiap setahun sekali. Itupun, warga harus memasang jaring di sekeliling ladang. Pengawasan berkala juga wajib untuk dilakukan. Jika lengah, kawanan kera akan datang dan merusak tanaman.

"Soalnya, kalau gak diawasi, batang pohon tembakau juga akan dibelah, lalu diambil bagian tengah-tengah batangnya untuk dimakan," keluhnya.

Dia mengaku hampir setiap hari melihat kawanan kera berkeliaran. Menurutnya, paling tidak ada sepuluh kelompok. Rata-rata populasi kera di daerahnya mencapai lebih dari 100 ekor.

"Setiap kelompok kera ini tidak bisa bersatu. Kalau setiap kelompok bertemu pasti akan saling menyerang. Sekarang kalau mau tanam apa-apa tidak bisa. Istilahnya kera ini mau membunuh warga secara perlahan," bebernya.

Pihaknya mengharapkan ada solusi yang lebih tepat untuk permasalahan ini, mengincar warga dusun tersebut sebagian besar menyambung hidup dengan bercocok tanam.

"Kalau sayuran tidak bisa ditanam, warga mau jual hasil pertanian apa. Tembakau itu hanya setahun sekali, itupun kalau hasilnya bagus. Kalau rusak atau harganya hancur, warga mau makan apa," pasrahnya. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Kera Rusak Tanaman Warga #Kera Ekor Panjang #Kera Masuk Perkampungan #Dusun Gobumi