Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mas Sopili, Solusi Sedimentasi Terapung di Waduk Cengklik

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 8 November 2022 | 03:36 WIB
Petani mengumpulkan enceng gondok dari perairan Waduk Cengklik, Boyolali untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik, Senin (7/11/2022). (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)
Petani mengumpulkan enceng gondok dari perairan Waduk Cengklik, Boyolali untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik, Senin (7/11/2022). (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID-Waduk Cengklik kebanggaan warga Boyolali seluas sekitar 300 hektare difungsikan untuk irigasi sawah. Sayangnya, 70 persen luasan waduk dipenuhi enceng gondok. Tanaman gulma ini sangat meresahkan nelayan. Disebut sedimentasi terapung. Perlu solusi tepat mengantisipasi pertumbuhan tanaman yang supercepat ini.

"Kami pernah mengangkat enceng gondok yang tersebar di 5 hektare perairan Waduk Cengklik. Tapi belum lama, tumbuh lagi. Cepat sekali. Sudah sangat mengganggu. Ini jadi masalah," ungkap Fasilitator Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Waduk Cengklik Lilik Prihanto, Senin (7/11/2022).

Lilik menegaskan, enceng gondok sebagai sedimentasi terapung wajib dibersihkan. Namun pihaknya tidak bisa beraksi secara mandiri.

Harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Salah satunya, masyarakat. Tujuannya, memberikan kesempatan kepada masyarakat agar bisa berinovasi mengolah tanaman gulma itu menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis tinggi.

"Artinya, kami libatkan masyarakat dalam hal pelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan perekonomian mereka dengan mengolah encek gondok itu," sambungnya.

Turut Raharjo, salah seorang warga Desa Sobokerto, Kecamatan Ngemplak menangkap peluang itu. Dirinya bersama kelompok masyarakat desa setempat memanfaatkan enceng gondok di Waduk Cengklik untuk membuat pupuk organik. Pupuk ini diklaim mampu memberikan hasil panen yang lebih memuaskan.

“Kami sudah uji coba memakai pupuk olahan enceng gondok ini untuk tanaman kangkung dan bayam. Hasilnya, kami bisa panen maju tiga hari dari biasanya. Normalnya, panen di hari ke-23. Dengan pupuk enceng gondok, hari ke-20 sudah bisa panen. Tanamannya lebih tinggi 2-3 sentimeter. Daunnya lebih besar dan lebih lemas, tidak kaku. Ini kalau dijual ke pedagang, kualitasnya lebih bagus," beber dia.

Turut tak pelit ilmu cara membuat pupuk berbahan enceng gondok. Pertama, giling tanaman gulma ini dengan mesin pencacah. Lalu campur dengan kotoran hewan ternak. Bisa ayam, kambing, atau sapi. Perbandingannya, 10:3. Misalnya, 100 kilogram (kg) enceng gondok cacah, butuh 30 (kg) kotoran ternak.

Kemudian semprot dengan EM4, bahan untuk pembuatan pupuk organik, dan molase. Cukup 250 mililiter (ml) atau setara satu cup air mineral gelas.

"Molase bisa diganti dengan tetes tebu atau gula Jawa yang dicairkan. Lalu diaduk rata. Tutup pakai terpal. Tiap sepekan diaduk. Nah, sekitar 21 hari, sudah siap digunakan. Tapi masih belum bagus. Akan lebih bagus sekitar 3 bulan untuk bisa kering total. Ini untuk pupuk yang padat," bebernya.

Pengaplikasiannya, langsung ditaburkan ke tanah sebagai pupuk dasar sebelum ditebar benih.

Turut menyebut, pupuk ini jauh lebih hemat dibandingkan pupuk kimia yang biasa dipakai petani. Hanya merogoh kocek Rp 14 ribu untuk membeli EM4, sedangkan enceng godoknya, tinggal ambil saja di waduk. Gratis.

"Ini jadi solusi kami, para petani yang kesusahan mendapatkan pupuk subsidi. Padahal di Desa Sobokerto ini hampir separonya petani. Pupuk ini sangat membantu kami. Meskipun saat ini kami masih belum coba untuk tanaman padi. Tapi teorinya, kalau hasilnya di sayuran bagus, pasti di padi juga bagus," jelasnya.

Merespons antusiasme warga Desa Sobokerto yang mencoba mengurai masalah enceng gondok di Waduk Cengklik, Pertamina tertarik mengadakan program corporate social responsibility (CSR) melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Adi Soemarmo.

Bertajuk Mas Sopili alias Masyarakat Sobokerto Peduli Waduk Cengklik-Inisiasi Kampung Iklim di Desa Sobokerto.

"Program ini merupakan inisiasi baru yang diusulkan pada 2022. Usulan berlandaskan pada rekomendasi dokumen social mapping 2021. Di Desa Sobokerto terdapat Waduk Cengklik yang keberadaannya dibutuhkan masyarakat. Sebab sawah yang ada di Desa Sobokerto dan desa lain yang di Kecamatan Ngemplak sangat membutuhkan aliran air irigasi. Namun keberadaan Waduk Cengklik perlu mendapat perhatian karena debit air yang semakin berkurang. Lantaran sedimentasi waduk yang salah satunya dikarenakan banyaknya enceng gondok menutupi permukaan waduk," ungkap Community Developer Officer DPPU Adi Soemarmo Siti Fathonah.

Ditambahkan Siti, pupuk organik olahan dari enceng gondok sudah diujikan di laboratorium. Yakni sampel tanah sebelum dan sesudah menggunakan pupuk tersebut. Namun hasilnya belum keluar.

Rencananya, jika hasilnya sudah dirilis, Siti akan membawanya ke Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali untuk mendapatkan izin edar.

"Jadi agar bisa diproduksi massal untuk dijual. Harapannya, selain menjawab kebutuhan pupuk warga di Desa Sobokerto, syukur-syukur juga bisa menambah pendapatan mereka," pungkas Siti. (aya/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Waduk Cengklik #sedimentasi terapung #mas sopili #Enceng Gondok