Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Suhu Politik Desa Manggis Memanas: Jelang Pilkades, Banjir Poster Black Campaign

Damianus Bram • Rabu, 9 November 2022 | 01:36 WIB
TERSEBAR MERATA: Perang poster, spanduk bakal calon kepala terpasang di Desa Manggis, Mojosongo, Selasa (8/11). (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
TERSEBAR MERATA: Perang poster, spanduk bakal calon kepala terpasang di Desa Manggis, Mojosongo, Selasa (8/11). (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Ratusan poster dan spanduk berbau kampanye menghiasi sepanjang jalan di Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo. Ini terjadi jelang pemilihan kepala desa (Pilkades), Desember mendatang. Suhu politik desa juga memanas sejak dua bulan terakhir. Bakal calon kades dari incumbent (petahana) maupun wajah baru ternyata saling melakukan black campaign.

Spanduk dan poster kampanye yang memampang wajah petahana kades Manggis, Muhajirin,  bertuliskan: “Wis iki wae madep mantep pak lurah dadi tentrem wargane; Pilihanku, lanjut pak kades!!! Lanjutkan jabatan, tuntaskan pekerjaan, sempurnakanlah amanah dan lainnya”.

Sedangkan bakal calon baru yang jadi penantangnya adalah Galih Hadi Saputra. Galih dan Muhajirin ini tinggal di dusun yang sama, yakni, RT 3, RW 3 Dusun Dawar, Desa Manggis.

Dan poster dan spanduk yang dipasang untuk mendukung Galih cukup menampilkan bahasan yang cukup nyelekit. Yakni bertuliskan: “Ojo arogan masyarakat juraganmu, dudu bawahanmu; Ingat kekuasaan tertinggi di tangan rakyat, bukan lurah!!!. Monggo selamatkan desa supoyo ora dingel-ngel tanda tangane (agar tidak dipersulit tanda tangannya)”.

Tak jarang, poster dan spanduk dari kedua bakal calon tersebut berhadapan di gang-gang desa. Terpasang merata, terutama di Dusun Jantung dan Jetis.

Warga Dusun Njantung, Hajiri, 42, mengatakan, poster dan spanduk tersebut sudah terpasang merata. Ada ratusan spanduk serta poster yang dipasang di sudut-sudut kampung sejak beberapa hari yang lalu. Bahkan beberapa warga dan simpatisan juga ikut memasang poster dan spanduk tersebut.

"Sebenarnya ada aturannya kan (dalam pemasangan spanduk kampanye, Red). Kalau kami, yang penting bermasyarakat. Di sini memang agak anget situasinya (tensi politiknya, Red). Sampe polisi patroli ke sini. Yang bikin suhu politik naik gara-gara tulisan ini," terangnya saat ditemui di rumahnya, Selasa (8/11).

Muhajirin mengamini suhu politik di desanya memang memanas sejak Agustus lalu. Menurutnya, bakal calon pesaingnya yang memasang poster dan spanduk lebih dulu. Tulisan-tulisan yang terpasang justru memojokan, dan seakan membunuh karakternya. Sehingga membuat suasana desanya menjadi sedikit gaduh.

"Cara mereka itu memojokan dan meremehkan kades. Itu tidak mengambil simpati warga. Cara mereka itu mendiskreditkan, menebar kebencian, berita hoaks, dan pembunuhan karakter saya. Karena bagaimanapun saya masih kades sampai akhir Desember," tegasnya.

Dia menilai, tulisan dan ujaran-ujaran kebencian dalam poster dan spanduk tersebut menggiring opini warga dan berujung diadu domba. Dia mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi.

Dia juga mengaku sempat mendapatkan intimidasi. Tepatnya pada saat pertemuan di dusun ataupun di acara pengajian. Aksi adu mulut sempat terjadi. Bahkan, dia mengaku tak hanya sekali dicegat dan dikeroyok simpatisan dari pihak lain.

"Saat kunjungan ke wilayah dusun-dusun untuk pertemuan warga, sering dihadang di tengah jalan saat pulang. Begitu saya ingin sosialisasi tentang pilkades dihalang-halangi tidak boleh hadir. Sudah hampir dua bulan terakhir ini sejak Agustus. Saya dihadang, dan dikerumuni mereka. Belum kalau diundang acara hajatan dan pengajian, saya sebagai kades mau sambutan, tapi pemudanya mengancam membubarkan diri. Ya sudah saya mengalah," bebernya.

Saat dikonfirmasi, Galih mengaku tidak tahu-menahu perihal pemasangan poster dan spanduk tersebut. Hal tersebut murni dilakukan oleh simpatisannya. Apalagi, sehari-hari dia menyibukan diri di Tambak, Mojosongo untuk mengurus bisnis kayunya. Menurutnya, spanduk dan poster yang dipasang merupakan aspirasi dari masyarakat.

"Itu dari simpatisan dan pendukung saya, karena saya seringnya di Tambak. Makanya saya juga kaget pas pulang kok ada poster serta spanduk itu. Berarti, karena masyarakat juga menginginkan perubahan itu tinggi. Itu bentuk aspirasi dari mereka," terangnya.

Dia juga membantah melakukan intimidasi pada Kades Manggis ataupun simpatisan pesaingnya. Sebab, dia selalu menekankan agar proses pilkades dilakukan secara santun. Dia menuding, justru kades Manggis-lah yang menyisipkan kampanye terselubung di kegiatan keagamaan desa. Mungkin hal tersebut yang memantik protes warga.

"Simpatisan saya mengintimidasi itu jelas tidak mungkin. Karena saya mengajak dengan cara-cara yang santun dan baik. Karena kalau mau jadi kades ya harus  benar caranya. Justru sebaliknya, ketika memberikan sambutan itu justru malah membawa-bawa kampanye. Makanya mungkin ada sebagian warga yang protes. Karena bukan ajangnya kampanye," ungkap pria yang juga menjabat sebagai kaur perencanaan dan pembangunan Desa Manggis ini.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Boyolali Yulius Bagus Triyanto mengatakan, penyaluran alat e-voting sudah dilakukan sejak 1 November lalu. Ada 15 desa yang akan melaksanakan pilkades. Saat ini proses pendaftaran bakal calon kades masih berlangsung.

"Kami sudah pembagian peralatan e-voting. Ini dibawa ke desa, baru setting alat dilakukan sebelum hari H pemilihan. Lalu alat dikarantina sampai hari H. Untuk menjaga agar tidak ada yang mengutak-atik sebelum pemilihan," terangnya. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Suhu Politik Desa Manggis #Desa Manggis #Pilkades Desa Manggis #dispermasdes boyolali #pilkades #pilkades serentak