Pelatihan diikuti 54 siswa yang tergabung dalam ekstrakulikuler karya ilmiah remaja (KIR). Dibuka dengan sambutan Ketua Panitia Pelatihan Jurnalistik SMKN 1 Banyudono Endang Dwiyani. Dia mendorong agar para siswa bisa menulis. Bekal kepenulisan ini diharapkan bisa memberi gambaran para siswa. Sehingga siswa bisa mengisi majalah dinding (madding) sekolah sesuai kaidah jurnalistik. Dengan begitu, para siswa bisa memiliki kemampuan menulis yang benar dan baik.
https://youtu.be/-rRbEG-kkYA
Kepala SMKN 1 Boyolali Suyatna mengatakan, menulis tidak bisa dipisahkan dengan penelitian. Menurutnya, penelitian jika tidak dituangkan dalam tulisan tidak bermanfaat. Selain itu, para siswa yang tergabung dalam KIR ini diharapkan bisa terpacu untuk menulis. Termasuk belajar menulis hal-hal yang baik.
”Sesuatu yang baik dan positif perlu diekspos. Untuk belajar menulis hal-hal yang baik, hasil penelitian harus dituangkan dalam tulisan. Saya juga menulis, dulu saat jadi guru saya pernah ditunjuk lomba guru berprestasi yang mengharuskan banyak tulisan untuk diajukan penulisan. Itu berguna mengisi portofolio. Itu sangat bermanfaat,” jelasnya di sela kegiatan.
Suyatna mengingatkan, momen pelatihan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Diharapkan para siswa bisa menjadi penulis dan jurnalis yang baik. Apalagi ada alumni yang bekerja di salah satu media nasional. Dia berharap bisa memotivasi siswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri.
”Tujuannya, pertama untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam penulisan karya ilmiah. Sebenarnya pelatihan dan pembekalan sudah rutin kami lakukan. Dengan ini mereka bisa lebih terpacu agar mereka juga bisa mengisi majalah dinding (mading) dan aktif mengikuti lomba KIR,” harapnya.
Suyatna menambahkan, output dari pelatihan ini agar anak berani untuk menulis. Selain itu mampu memahami kaidah kepenulisan, serta menulis secara benar dan bijak. Utamanya agar selalu memperhatikan norma-norma penulisan.
Adapun materi dasar jurnalistik disampaikan redaktur Jawa Pos Radar Solo Feri Ardi Susanto. Sementara materi foto jurnalistik oleh Arief Budiman.
Salah seorang siswa kelas X TKJ 1 SMKN 1 Boyolali Michell Hans, 16, mengatakan, sebelumnya belum pernah mendapat materi penulisan berita. Menurutnya, pelatihan ini bisa memberikan wawasan terkait kepenulisan dan fotografi. Ditambah lagi, dia juga ikut praktik wawancara door stop.
”Tadi juga praktik door stop. Itu menyenangkan. Jadi tahu bagaimana cara wawancarai narasumber. Kesulitannya paling menjaga narasumber dan menjaga agar bisa lewat. Tapi seru,” katanya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram