Direktur Utama (Dirut) Pudam Tirta Ampera Boyolali, Sunarno mengatakan ada delapan embung yang masuk pengelolaannya. Namun, baru lima embung yang sudah dimanfaatkan untuk sumber air bersih. Sedangkan dua lainnya masih tahap pemasangan instalasi pipa air, hingga pemasangan di tiap pelanggan.
"Ada delapan embung yang kita buat, tapi ada dua yang belum selesai. Seperti di Pusporenggo dan Ringinlarik, Musuk. Sebenarnya proyek embung sudah 100 persen, tapi baru dibuat konsep penyediaan air bersih, instalasinya. Jadi kita membuat jaringan-jaringan, water treatmen pengolahannya, pipa-pipa distribusi baru ke sambungan rumah," jelasnya pada Jawa Pos Radar Solo, pada Minggu (20/11).
Kedua embung tersebut memiliki volume tampung air cukup besar. Yakni, Embung Ringinlarik memiliki volume tampung mencapai 478 ribu meter kubik. Lalu Embung Pusporenggo memiliki volume tampung 234 ribu meterkubik air. Selain itu, posisi embung berada di dataran atas. Sehingga bisa dialirkan ke wilayah Boyolali Kota, Mojosongo dan sekitarnya.
Pembuatan embung ini memang dimanfaatkan sebagai penyedia air baku. Baru Pudam membuatkan sistem jaringan pengolahan air bersihnya hingga ke pelanggan. Saat ini, ada lima embung yang sudah difungsikan oleh pudam. Seperti embung Musuk 1 dengan volume tampung 90 ribu meterkubik air. Lalu Embung Musuk 2 dengan volume tampung 150 ribu meter kubik.
Kemudian, tiga embung di Jelok, Cepogo, yaknu Embung Melikan mampu menampung 53 ribu meter kubik air, Embung Besalen menampung 19 ribu meterkubik dan Embung Watugajah menampung 33 ribu meter kubik. Lalu embung Kedung Banteng di Cabeankunti, Cepogo mampu menampung 20 ribu meterkubik air.
"Pemanfaatannya (Pelanggan,red) macam-macam. Jadi tergantung besar kecilnya embung. Seperti Embung Kedung Banteng (Cabeankunti) itu hanya sebagai penampung, menjadikan embung itu sebagai penyuplai di Embung Melikan (Jelok). Karena embung Melikan ini, takala penghujan penuh. Air-air yang ada di sungai-sungai yang sudah kita bantu masukan lewat selokan-selokan dan suplesi itu gak mampu memnuhi," katanya.
Lima embung tersebut bisa mengaliri sambungan air bersih ke lima ribu pelanggan. Selama ini, problem di Boyolali lebih pada pengaliran air. Kota Susu memiliki sumber air baku namun, lokasinya di bawah. Seperti di Tlatar, Kebonbimo, Boyolali Kota, umbul di Nepen, Terasdan umbul-umbul di Pengging, Banyudono. Sehingga kesulitan untuk menekan biaya instalasi.
"Takala sumber air baku dinaikan ke Boyolali Kota, gak ketemu cost-nya, berat. Nanti biaya listrik dengan biaya pelanggan gak seimbang, tombok. Makanya tidak bisa dilakukan. Problemnya, tidak ada sumber air yang melintang di Boyolali yang bisa kita manfaatkan. Sehingga Boyolali hanya untuk tampungan-tampungan air hujan," terangnya.
Kabid Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Boyolali Sri Budi Wahyono, menyebut ada 45 embung di Kota Susu. Ada yang dibangun pemkab Boyolali maupun pemeŕintah provinsi dan pusat. Serta dari tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL). Dari 45 embuñg tersebut, ada satu yang masih proses pembangunan.
"Kalau yang membangun DPUPR. Namun, untuk pengelolaan ada di Desa atau Pudam. Saat ini kami masih membangun satu Embung Tolakbroto di Simo," terangnya.
Dia merincikan, 45 embung tersebut terdiri dari 32 embung milik DPUPR, satu milik Dinas Pertanian, sepuluh embung dibangun oleh pusat, satu embung dibangun provinsi serta satu embung TJSL. Sedangkan satu embung yang baru proses pembangunan terletak di Simo. Embung berukuran luas 0,16 hektar. (Rgl/dam) Editor : Damianus Bram