Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Eksistensi Perajin Aluminium dan Kuningan di Desa Kembangkuning, Cepogo

Damianus Bram • Senin, 12 Desember 2022 | 15:20 WIB
DIKEJAR WAKTU: Perajin kuningan di Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali tengah menyelesaikan pesanan. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
DIKEJAR WAKTU: Perajin kuningan di Desa Kembangkuning, Cepogo, Boyolali tengah menyelesaikan pesanan. (RAGIL LISTYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Perajin kuningan dan aluminium di Desa Kembangkuning, Cepogo kian pusing tujuh keliling. Harga bahan baku terus melonjak pasca kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Perlembar bahan baku kuningan, bisa naik sampai Rp 200 ribu per minggunya. Bahkan saat ini, bahan baku kuningan tembus Rp 3 juta per lembar.

Pasokan bahan baku kuningan mengandalkan produk dari luar negeri. Pasca isu kenaikan BBM, bahan baku kuningan berganti harga. Dari Rp 2,7 juta menjadi Rp 3 juta per lembar untuk ketebalan bagus. Harga bahan baku memang tergantung ketebalan dan panjangnya.

"Saya buat ini, pakai kuningan ukuran 2x2 meter dengan ketebalan 0,6 sentimeter, harganya sudah Rp 2,5 juta. Ini buat ornamen untuk menghias lampu. Memang harganya itu dilihat dari ukuran perlembar dan ketebalannya. Ini harga bahan baku masih naik terus, seminggu bisa dua kali kenaikan. Perlembar bisa Rp 200 ribu naiknya," ujar salah seorang perajin kuningan dari Padangart asal Desa Kembangkuning, Cepogo Joko Ritanto.

Dia mengakui sudah menjadi perajin kuningan sejak lulus SD. Belajar mengukir ke Dusun Tumang, Cepogo, kemudian dikembangkannya di Kembangkuning.

“Bisnis ini sempat macet gara-gara pandemi. Semua alokasi anggaran di pemerintahan dan instansi negara dialihkan semua ke Covid-19. Baru ini mulai ada lagi orderan masuk, tapi sudah terganjal harga bahan baku," keluhnya.

Situasi ini membuatnya harus pandai mengatur harga jual hasil karya kerajinannya. Dia selalu menekankan pada pembeli bahwa pemesanan barang dengan sistem pre order harus memberikan down payment. Ini guna membeli bahan baku terlebih dahulu dan mengantisipasi kenaikan kuningan.

"Alhamdulillah orderan mulai lancar. Paling gak sebulan ada satu orderan. Saya juga jaga komunikasi dengan pelanggan agar tidak terputus silaturahminya," bebernya.

Demi bisa mengembangkan bisnisnya, para perajin juga mulai beralih ke pembuatan alat dapur berbahan aluminium. Perputaran uangnya dianggap cenderung cepat, lantaran ada pengepul yang siap langsung menerima barang jadi untuk dijual kembali. Selain itu, harga bahan baku juga lebih murah.

Sementara itu perajin kuningan lainnya di Dusun/Desa Kembangkuning, Sigit Nugroho, 24, juga mengeluhkan situasi serupa.

Selain harga harga bahan baku yang terus naik, gempuran perajin lain yang menjual di online shop dengan harga murah juga membuat beberapa pengrajin ikut pusing dalam sisi persaingan di pasar.

"Kami tekankan kualitasnya, karena perhitungan kami juga pada keberlanjutannya. Apalagi bahan bakunya saja sudah mahal, belum pengerjaannya juga sulit. Tapi kami berani bertaruh untuk kualitasnya," tegasnya yang mengakui lebih sering mengerjakan borongan. (rgl/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Padangart #Desa Kembangkuning #Perajin Aluminium #Perajin Kuningan