Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

104 Sapi di Boyolali Terjangkit LSD, Kulit Berbenjol-Benjol

Damianus Bram • Jumat, 23 Desember 2022 | 03:15 WIB
TERDAPAT BENJOLAN: Sapi yang terkena lumpy skin desease (LSD) di Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
TERDAPAT BENJOLAN: Sapi yang terkena lumpy skin desease (LSD) di Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari. (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Setelah diamuk penyakit mulut dan kuku (PMK), kini peternak sapi dibikin waswas dengan penyakit lumpy skin desease (LSD). Gejalanya benjol-benjol kulit, namun tingkat fatalitasnya rendah. Saat ini, ada 104 sapi di Boyolali yang terserang LSD, lima di antaranya sembuh.

Kepala Dinas Perternakan (Disnakan) Boyolali Lusia Dyah Suciati mengatakan, kasus LSD pertama kali ditemukan di Desa Pakang, Kecamatan Andong, akhir Oktober lalu. Ada empat ekor sapit terjangkit penyakit tersebut. Kemudian meluas hingga Andong, Mojosongo, Boyolali, Wonosegoro, dan Nogosari.

”Ada 104 kasus LSD dengan jumlah sembuh total ada lima ekor sapi. Sisanya masih dalam pengobatan. Jadi kalau kami temukan (kasus LSD,Red) saat di lapangan ya langsung kita obati, dan sembuh,” terangnya, Kamis (22/12).

Lusia menjelaskan, penularan LSD bebeda dengan PMK, meski sumber penyakitnya berasal dari virus. PMK penularannya cenderung cepat dan fatalitas ternak cukup tinggi. Sedangkan LSD tidak. Penularan LSD melalui vektor seperti gigitan nyamuk, lalat, maupun kutu caplak. Sehingga penyebarannya tidak cepat, tergantung karena gigitan vektor tersebut.

”Wonosegoro ada satu sudah sembuh lagi. Sekarang itu menyebarkan satu-satu di beberapa desa gitu. Kebetulan masyarakat jarang laporan resmi, tapi begitu kami menemukan langsung diobati. Nanti seminggu sudah membaik. LSD ini sifatnya sporadis, tidak satu kandang langsung kena semua. Jadi kalau nggak tergigit nggak tertular,” terangnya.

Lusi mengaku telah dilakukan kajian oleh Balai Besar Veteriner Wates, Jogjakarta. Mereka mengambil sampel lalat untuk diteliti. Lalu, penyembuhan LSD lebih cepat. Begitu sembuh, benjolan akan mengering sendiri. Jika ada ternak terkena LSD, petani diimbau segera melapor. Agar bisa diobati hingga sembuh.

”Jangan sampai panik dan dijual dengan harga murah,” tandasnya.

Dia menambahkan, vaksin LSD juga diberikan. Ada 617 ternak yang sudah mendapatkan vaksin. Ketersediaan vaksin LSD sebanyak 3,7 ribu dosis. Sejauh ini telah didistribusikan 617 dosis.

Salah seorang peternak asal Dusun Grinting, Desa Tegalgiri, Nogosari, Mahfud Efendi mengatakan, sapi-sapinya mengalami benjolan-benjolan yang hampir merata di bagian kulit tubuh.

”Kenanya itu sejak lima hari yang lalu. Mulai ada gejala aneh. Awalnya di sekitar alat kelamin sapi, kemudian merata hapir di seluruh tubuh,” terangnya. (rgl/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#peternak sapi #Sapi Terjangkit LSD #Penyakit LSD #lumpy skin desease #Peternak Sapi di Boyolali #Disnakan Boyolali