Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Lusia Dyah Suciati mengatakan, kematian ikan petani karamba ini terjadi sejak Minggu (1/1/2023) dan masih terjadi hingga Senin (2/1/2023). Hingga kemarin, jumlah ikan yang mati mencapai 175 ton.
"Ikan yang mati sudah 175 ton dari 32 petani karamba. Kalau kerugian, ikannya (yang mati) ada yang besar ada yang kecil. Tapi itu semua belum dihitung. Usia dan harga jual ikannya juga berbeda-beda. Kalau dirupiahkan, kurang lebih Rp 4 miliar, karena ikannya juga variasi. Memang tahun ini korbannya lebih banyak," terangnya.
Ada berbagai jenis ikan seperti nila dan mujaer. Satu petani bisa memiliki beberapa karamba. Kejadian upwelling ini sudah diperingatkan sebelumnya. Karena perubahan suhu ini menjadi siklus tahunan. Kemudian cuaca selama beberapa minggu terakhir cukup buruk bagi petani karamba. Tidak ada sinar matahari sehingga menyebabkan kotoran dan sisa pakan naik berubah menjadi amoniak.
Hal tersebut memicu fenomena upwelling. Permukaan air menjadi dingin dan oksigen berkurang drastis. Sehingga tidak ada sirkulasi udara. Sisa-sisa kotoran ikan yang mengendap di bawah naik menjadi amoniak dan meracuni ikan. Sebelumnya, petugas disnakan sudah mendatangi lokasi. Petani karamba diminta mengurangi populasi ikan di karamba. Serta menambahkan pompa air untuk membantu sirkulasi udara. Namun, sudah terlanjur terjadi upwelling.
Lusi menambahkan, fenomena ini akan terjadi jika cuaca terus memburuk. Dia menyarankan agar petani karamba mengantisipasi dengan mengurangi populasi ikan. Menilik sirkulasi udara di waduk berkurang drastis. Guna mengurangi potensi kemarian ikan lagi.
"Seharusnya yang kurang-kurang sedikit itu (usia) dipanen dulu. Mengurangi populasi ikan. Sehingga tidak seperti ini. Kami juga baru sampaikan ke pusat (Kementan) karena kejadian ini lintas (daerah) juga. Belum ada instruksi terkait disposisi untuk bantuan. Karena ini masih berproses," katanya.
Kapolsek Kemusu Iptu Muh Basori menerangkan, pihaknya langsung mengecek ke lokasi pada Minggu. Saat ini pendataan ikan yang mati terus dilakukan. Karena kematian ikan ini beruntun tiga hari terakhir. Bahkan masih terus bertambah. Jumlah ikan yang mati dalam satu karamba berbeda-beda. Berkisar 25 -85 persen dari populasi.
"Itu kan terjadi saat malam haru. Saya juga semalam ditelepon warga banyak lagi yang mati. Untuk, bangkai ikan-ikan yang mati lantas dievakuasi. Lalu dikubur di pulau tengah waduk. Karena banyak. Kalau tidak dikubur jadi bau dan berbahaya," terangnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram