Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Fenomena Upwelling Landa Waduk Kedung Ombo: 175 Ton Ikan Mati Massal, Rugi Rp 6 Miliar

Damianus Bram • Selasa, 3 Januari 2023 | 01:51 WIB
MUSIMAN: Kematian ratusan ton ikan milik petani karamba di Waduk Kedung Ombo Wonoharjo, Kemusu, Minggu (1/1/2023). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
MUSIMAN: Kematian ratusan ton ikan milik petani karamba di Waduk Kedung Ombo Wonoharjo, Kemusu, Minggu (1/1/2023). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID – Fenomena upwelling atau air dingin kembali melanda Waduk Kedung Ombo (WKO). Kondisi ini memicu 175 ton ikan berbagai jenis mati. Ikan-ikan tersebut milik 32 petani karamba di Dusun Bulu Serang, Desa Wonoharjo, Kemusu.  Kerugian ditaksir mencapai Rp 6,1 miliar. Kasus ini merupakan yang terburuk sejak 2018 silam.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan (Disnakan) Boyolali Lusia Dyah Suciati mengatakan, kematian ikan petani karamba ini terjadi sejak Minggu (1/1/2023) dan masih terjadi hingga Senin (2/1/2023). Hingga kemarin, jumlah ikan yang mati mencapai 175 ton.

"Ikan yang mati sudah 175 ton dari 32 petani karamba. Kalau kerugian, ikannya (yang mati) ada yang besar ada yang kecil. Tapi itu semua belum dihitung. Usia dan harga jual ikannya juga berbeda-beda. Kalau dirupiahkan, kurang lebih Rp 4 miliar, karena ikannya juga variasi. Memang tahun ini korbannya lebih banyak," terangnya.

Ada berbagai jenis ikan seperti nila dan mujaer. Satu petani bisa memiliki beberapa karamba. Kejadian upwelling ini sudah diperingatkan sebelumnya. Karena perubahan suhu ini menjadi siklus tahunan. Kemudian cuaca selama beberapa minggu terakhir cukup buruk bagi petani karamba. Tidak ada sinar matahari sehingga menyebabkan kotoran dan sisa pakan naik berubah menjadi amoniak.

Hal tersebut memicu fenomena upwelling. Permukaan air menjadi dingin dan oksigen berkurang drastis. Sehingga tidak ada sirkulasi udara. Sisa-sisa kotoran ikan yang mengendap di bawah naik menjadi amoniak dan meracuni ikan. Sebelumnya, petugas disnakan sudah mendatangi lokasi. Petani karamba diminta mengurangi populasi ikan di karamba. Serta menambahkan pompa air untuk membantu sirkulasi udara. Namun, sudah terlanjur terjadi upwelling. 

Lusi menambahkan, fenomena ini akan terjadi jika cuaca terus memburuk. Dia menyarankan agar petani karamba mengantisipasi dengan mengurangi populasi ikan. Menilik sirkulasi udara di waduk berkurang drastis. Guna mengurangi potensi kemarian ikan lagi.

Photo
Photo
MUSIMAN: Kematian ratusan ton ikan milik petani karamba di Waduk Kedung Ombo Wonoharjo, Kemusu, Minggu (1/1/2023). (RAGIL LISTIYO/RADAR SOLO)

"Seharusnya yang kurang-kurang sedikit itu (usia) dipanen dulu. Mengurangi populasi ikan. Sehingga tidak seperti ini. Kami juga baru sampaikan ke pusat (Kementan) karena kejadian ini lintas (daerah) juga. Belum ada instruksi terkait disposisi untuk bantuan. Karena ini masih berproses," katanya.

Kapolsek Kemusu Iptu Muh Basori menerangkan, pihaknya langsung mengecek ke lokasi pada Minggu. Saat ini pendataan ikan yang mati terus dilakukan. Karena kematian ikan ini beruntun tiga hari terakhir. Bahkan masih terus bertambah. Jumlah ikan yang mati dalam satu karamba berbeda-beda. Berkisar 25 -85 persen dari populasi.

"Itu kan terjadi saat malam haru. Saya juga semalam ditelepon warga banyak lagi yang mati. Untuk, bangkai ikan-ikan yang mati lantas dievakuasi. Lalu dikubur di pulau tengah waduk. Karena banyak. Kalau tidak dikubur jadi bau dan berbahaya," terangnya. (rgl/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#waduk kedung ombo #Ikan Mati #Petani Karamba #Fenomena Upwelling #Disnakan Boyolali